Dalam otakku trus menyalahkan kenapa aku mau tau urusan orang. Tapi hatiku berkata lain, aku udah terlajur tau semua jadi harus aku selesaikan masalah Ella. "Saving Ella", aku harus jadi orang terdekat dia.
Akal dan hatiku perang, aku ingat kata orang bijak "ikuti kata hatimu". Suatu momen kebetulan pada waktu hampir bersamaan terjadilah konfik antara Ella dan bosnya. Konfik bukan hanya masalah pekerjaan tapi masalah pribadi yang utama. Aku diminta rekanku (bos Ella) untuk jadi penyampai pesan ke Ella. Lewat telpon, sms atau ngobrol langsung. aku pikir ini kesempatan untuk memulai "Saving Ella".
Kesempatan yang banyak untuk bicara membuat aku berani bilang kalo aku suka dia. Dan dengan sinis dia bilang kalo aku mau mempermainkan dia. Alasan dia karena aku tau banyak siapa dia sebenarnya.
Aku jadi harus pake strategi apa lagi, kali ini akalku menang karena didukung keadaan waktu itu karena penolakan Ella.
Niat ku untuk menyadarkan Ella, pupus dan aku mulai sibuk dengan kerjaanku lagi.
Sampe suatu malam Ella telpon ke hpku.
“Halo mas, aku nganggu gak?”suaranya seperti habis nangis.
“Nggak, ada apa?” jawabku.
“Aku pingin ngobrol mas, bisa ke rumahku nggak?”
“Inikan udah malem, oke deh aku telpon balik kamu” kataku trus aku tutup dan aku telpon balik dia.
“Halo”, suaraku di telpon
“Iya mas, aku lagi pusing”, jawab Ella.
“Kenapa sih, kamukan jarang pusing dan nggak pernah mau pusing”, kataku.
Suara tarikan nafas berat aku dengar dari mulutnya “Mas maukan beri aku kesempatan untuk jadi pacar mas”. Kaget aku denger itu, tapi aku coba santai seolah tanpa beban dan seolah – olah nggak butuh.
“Maaf la, aku laki-laki biasa untuk ditolak perempuan dan buat aku sekali di tolak ya udah, tidak ada kesempatan kedua’, jawabku tenang.
“Katanya mas mau bantu aku?’ dengan suara yang melemah.
“Iya, pasti aku bantu kalo bisa”, jawabku
“Mas, apa yang mas katakan bahwa aku perlu status, aku perlu kepastian itu memang tidak bisa diberi sama bapak (bosnya) dan tidak akan diberikan”, jelas Ella.
“Gini aja deh la, besok kita ketemu dikantormu ya”, kataku.
”Tapi apa bapak dikantor besok”,tanyaku lagi.
”Gak mas, bapak lagi ke Jogja, berangkat sore tadi dan pulang lusa”, jawabnya.
” Oke deh, besok pagi aku kekantormu
Lalu aku tutup telponnya.
Bersambung.....................................
2 komentar:
Sodaraku bilal, ini sebuah realita kehidupan yang aku jalani. ya ada sedikit edit dan tambahan agar tidak ada yang sakit hati. terimakasih sodaraku bilal.
Wah mas...hati -hati lo nanti malah maunya nolong tapi jadi terseret ikut nambahi ruwet hehe
Tak tunggu bagian 3 nya mas
CHeers
Posting Komentar