Aku selalu berpikir bahwa apa orang lain juga berpikiran sama seperti adikku, mungkin lebih sekedar kritik tapi malah berburuk sangka kepada aku ya? Satu demi satu temen –temen mulai curiga melihat kedekataanku dengan Ella. Tapi selalu aku jawab, ” Ah itu kan biasa kalo aku bertemen baik dengan bosnya, apa salah kalo aku juga akrab dan baik dengan sekretarinya”. Malah komentar mereka sudah sangat bikin aku kesel juga, ”Jangan – jangan kamu itu ”menikmati” juga”. Ucapan seperti itu sering aku dapatkan.
Telpon dan sms dari Ella sering aku terima ya kadang sekedar mengingatkan sholat atau makan. Aku tanggapi semua telpon dan smsnya, aku nggak mau nanti tujuanku untuk ”Saving Ella” bubar sebelum berjalan. Dalam hatiku mengatakan bahwa Ella bukan sampah tapi hanya wanita yang kurang beruntung, pasti ada jalan untuk memperbaikinya.
Tepat tanggal 20 Juli aku bersedia jadi pacar Ella, dan berusaha menerima dia apa adanya. Seperti layaknya orang lain pacaran, penuh dengan kemesraan walau pun usiaku udah 30 tahun. Kami lebih sering pacaran lewat telpon dan sms, karena menjaga supaya bos Ella dan orang lain tidak tau dulu tentang hubungan ini.
Dua minggu kami lalui dengan cepat sampe akhirnya aku minta kejelasan hubungan segitiga ini.
“La, apa kita harus sembunyi terus?”, tanyaku
”Apa hanya begini sudah bisa membuatmu tenang?” lanjut aku sambil aku lihat matanya yang juga menatap wajahku.
”Trus aku harus bagaimana mas?”, dia balik tanya kepadaku.
”Apa kamu masih pergi dan berhubungan suami istri dengan bapak?”, tanyaku lagi.
”Aku nggak bisa menolaknya mas”.
”Kalo aku tolak dia akan curiga dan marah besar”, jawabnya.
Jawabannya seolah – olah meminta permakluman dariku. Tapi aku masih bisa mengalah karena bagaimana pun hubungan Ella dengan bosnya sudah kurang lebih 6 tahun, tidak mungkin perasaan bisa berubah dalam waktu singkat.
”Begini deh la, kamu coba menolak dan coba bisa berkata tidak”, jelasku.
”Boleh nggak aku minta sesuatu ke kamu, sebetulnya buat kamu bukan buat aku”, ucapku.
”Apa mas?”, tanya dia.
”Mau nggak kamu tutup auratmu, kamu kan wanita muslim lebih baik kamu pake jilbab”, jelasku.
”Aku belum bisa mas, aku masih merasa kotor”, jawab Ella.
”Trus kapan kamu mau bersih?” tanyaku lagi.
”Aku akan coba pake jilbab tapi nggak bisa dalam waktu dekat, aku juga perlu waktu mas”, ujar Ella.
”Aku senang dengarnya la, setidaknya ada niat kamu untuk menghidari dari hal – hal yang buruk”, kataku.
”Awal puasa nanti aku mau pake jilbabku mas”, jelas ella.
“Nggak kelamaan tuh?” tanyaku.
“Mas, aku akan berusaha jangan paksa aku gitu dong”, jawab dia.
“ Iya deh aku tunggu, tapi belajar untuk mengatakan tidak setiap kali diajak keluar yang tidak hubungannya dengan pekerjaan juga harus”, aku coba ingatkan dia lagi.
“Iya mas, aku akan coba itu”, jawab Ella.
Bersambung................................
Tidak ada komentar:
Posting Komentar