Laman

Kamis, 24 Januari 2008

Saving Ella ( Terakhir )

“Aku nggak tau lagi harus gimana mas?” kata Ella.
”Harus gimana, apa nya?” tanyaku.
"Sebenarnya hubungan aku dan bapak baik-baik aja, Cuma apa akan seperti ini terus".
”Mas, aku udah tau kalo apa yang ada sekarang Cuma mimpi yang nggak akan jadi kenyataan”, jelas Ella.
Sambil dengerin Ella cerita aku ingat pada suatu hari bos Ella pernah menunjukan pada ku sebuah sms dari Ella. Dan dengan rasa bangga "ini kalo mau baca", ujar bos Ella.
Isi sms itu,
Saya Cuma ingin membahagiakan bapak, Cuma itu yang saya ingin sekarang. Seutuhnya membuatmu bahagia. Saya tidak bisa melihatmu sedih dan menanggung beban sendirian. Itulah kenapa saya nggak bisa meninggalkan bapak. Seperti apapun bapak saya tetap mencintai bapak. Umur, kekayaan dan kedudukan itu sudah tidak penting bagiku. Saling memberi dan menerima itu sudah cukup bagiku.
"Mas kok diem sih", kata Ella
"Iya kan aku dengerin", kataku
"Serius, aku terusin ya?", suara Ella agak keras.
”Umurku sudah cukup untuk wanita memiliki kepastian dan bisa menentukan pilihan”, tambahnya lagi.
”Dimata keluargaku, aku jadi anak yang keras kepala selalu ngelawan nasehat ibuku, tapi itu bukan mauku mas”, lanjutnya.
”Apa keluargamu nggak tau yang sebenarnya?”, tanyaku lagi.
”Mungkin mereka bisa merasa tapi nggak mau membuat aku nggak nyaman dengan itu”.
”Kadang aku merasa bahwa gunjingan orang tentang hubuganku dengan bapak sudah sampe ke telinga mereka”, tambahnya lagi.
”Oh itu pasti”, jawabku.
”Aku aja tau itu dan banyak orang tau tapi mereka pura – pura tidak tau”, jelasku.
”Mas, aku capek kalo terus begini”.
”Aku pingin hidup normal seperti wanita seusiaku, berkeluarga, punya anak, ngurusin suami”, dengan mata mulai berembun air mata Ella berkata pada ku.
”Cuma mas harapanku untuk bisa merubah nasibku”, tambahnya lagi.
”Maaf ya la, aku belum bisa berpikir untuk memberi keputusan sekarang, aku minta waktu”, jawabku.
Aku berdiri dari kursi dan meminta pamit untuk pulang.
”La, aku pulang dulu ya”, kataku.
”Mas mau kan bantu aku untuk ini”, ucap Ella dengan penuh harap.
”Ini masalah hati la, jadi tidak bisa dipaksa”,jawabku.
Sambil keluar dari ruangannya aku sempatkan bersalaman dengan Ella. Dan diantarnya aku sampe depan kantornya.
”Sampe berapa lama aku tunggu jawabanmu mas?”tanya Ella.
“Kasih aku waktu beberapa hari”, jawabku.
Aku pun pulang ke kantor untuk menyelesaikan beberapa kerjaan yang belom selesai.
Dalam perjalan pulang aku berpikir keras, apa ini benar tulus Ella ingin mengakhiri semua? Apa sebuah jebakan yang memang dibuat untuk menutup hubungan Ella dan bosnya?
Pertanya itu aku hubungkan dengan beberapa kejadian yang aku tau persis, bahwa bos Ella tidak akan melepas Ella begitu saja bepergian dengan laki-laki walaupun masih familinya. Itu aku tau dan pernah terjadi didepanku rekanku itu marah kepada Ella didepanku untuk masalah seperti itu.
Apa kirannya perlu aku teruskan berjuang menyelamatkan Ella? Sampai apa aku berjuang kalo ini sebuah jebakan saja?

T A M A T

2 komentar:

Anonim mengatakan...

hhmmmmm...sulit ini sulit...bener juga ini masalah hati...mungkin harus bener2 dipastikan perasaan pada Ella seperti apa...kalo memang yakin...majuu terus..bantu saja :)

imam mengatakan...

waduh...jadi gini akhirnya hehe
wah mas hendro...kok jadi nggantung gini terakhirnya...trus gimana tuh?? mission not accomplish donk huhuhu
Ya bener mas masalah hati...tapi kalo hati udah cocok, aku dukung 200% mas, maju terus pantang mundur...jangan lupa undangannya yaa hehehe

Cheers