Laman

Kamis, 24 Januari 2008

Saving Ella ( bag 1)

Aku sudah kenal lama dengan Ella hampir 2 tahun, tapi aku kenal dekat pada waktu Ella ulang tahun di bulan Juni. Ella sekretaris rekan kerjaku, manis dan enak di ajak bicara. Singkat cerita perkenalan yang cukup lama bikin aku kenal dia lumayan banyak.

Pada bulan juni tanpa sengaja ada file masuk ke flasdriveku, setelah aku tahu bahwa Ella sengaja memasukan file itu tapi untuk dipindah ke komputer dia dirumahnya. Flasdriveku di pinjam tapi dia lupa untuk menghapus filenya. Iya setelah aku baca aku baru tahu siapa sebenarnya Ella. Seperti apa yang dikatakan temen - temen kerjaku.
Jadi apa kata temen - temen dan banyak orang tentang Ella itu benar bahwa dia simpenan bosnya yang rekan kerjaku juga. Aku dan bosnya bekerja di bidang yang sama. Dalam file itu berisi harapan Ella, harapan seorang wanita biasa. Aku pun tanya ke rekan kerjaku "apa benar kalo Ella udah jadi istri?". Jawab rekanku "Iya, tapi belum aku nikahi". "trus apa namanya?" ujarku lagi. "Ya, kita meyakini aja kalo cinta kami cinta sejati, jadi resmi atau siri pun tidak" jawab rekanku. Rekanku kira -kira berumur 55 tahun sedangkan Ella 26 tahun.
Akhirnya rasa penasaranku untuk tau lebih jauh pun timbul kenapa Ella sampe seperti itu. Aku coba mencari informasi ke tetangga, temen sekolahnya dan sempat aku ketemu orang tuanya.

Ella itu wanita yang dibesarkan oleh ambisinya sendiri dan lingkungan yang mendukung dia seperti itu. Cita - citanya yang ingin menjadi wanita elegan, kaya dan di hormati. Kurang kasih sayang dari bapak sebagai pelindungnya membuat dia mencari figur bapak. Itu dia akui, dan bosnya yang dia kagumi dan dijadikan bapak.
"Kamu tau nggak La, kalo kamu tidak akan mendapat apa yang kami inginkan", kataku pada Ella. "Aku tau mas, setidaknya untuk saat ini aku udah merasakan itu",jawabnya. "Maksudmu apa?", tanya ku lagi.
"Aku udah menikmati hidup seperti ini, walau belum seutuhnya", jawabnya.
"Kamu tau apa yang kamu lakukan itu zina", kataku. "Dan kamu tau apa yang jadi beban kedua orang tuamu mendengar gunjingan tetangga dan orang-orang cerita tentang kamu"tambahku lagi. " Udahlah mas, kamu bukan siapa-siapaku jangan nasehati aku, aku capek dengernya!" jawabnya dengan marah.

Jawabannya penuh dengan pertanyaan besar buat aku dan aku berniat untuk menyadarkan Ella yang tadinya aku pikir konyol dan penuh resiko buat aku.

Tunggu lanjutannya................................

2 komentar:

Anonim mengatakan...

Astagfirlullah, Bagus mas memang sepeti itu seharusnya kita, dapat mengatakan mana yang baik mana yang benar. Pantas Bencana dimana2

Anonim mengatakan...

wahhhhhh....lannnjuttttt...ditunggu lanjutannya...ini kisah nyata beneran ya mas?