Laman

Kamis, 24 Januari 2008

Aku dan Ella ( bagian 1)

Ella memang jadi tulang punggung keluarganya sekarang, setelah bapaknya sering sakit – sakitan. Jadi apa yang dia bilang bahwa orang tuanya nggak mau membuatnya tidak nyaman, ya karna faktor ekonomi. Bosnya banyak memberi Ella dan keluarganya bantuan urusan materi. Kadang aku mau menyalahkan bosnya tapi tidak bisa juga karena itu semua sebuah kenyataan bahwa mereka saling membutuhkan.
Bosnya Ella sendiri mempunyai banyak masalah dengan keluarganya. Tapi niatku untuk “Saving Ella” harus trus jalan dengan tujuan yang aku rasa baik. Pernah aku tanya ke Ella, “Apa yang kamu cari itu materi?”. Dia jawab, “Bukan”.
Begitu komplek masalah nya, dia butuh perhatian dari seorang bapak tapi dia juga perlu bantuan untuk menghidupi keluarganya.
Juga pernah aku katakan sama Ella,” Kamu lebih baik jadi pelacur, mungkin kamu udah kaya sekarang”. Kata – kataku itu tidak membuatnya marah.
Malamnya aku masih berpikir apa yang akan aku jalani apa sudah benar? Pertanyaan yang terus ada di otakku. Ibuku belum tau siapa sebenarnya Ella, dia cuma tau kalo Ella itu sekretaris rekan kerjaku. Tapi adikku tau betul siapa Ella, karena adikku bergerak di bidang yang sama dengan aku. Jadi suatu hari adikku mulai curiga bahwa aku mulai dekat dengan Ella. Kritik pedas juga dia bilang ke aku, “ Aku nggak mau kalo sampe Ella jadi kakak iparnya”. Dan tambahnya, “Aku cuma mengakui kamu sebagai kakakku dan Ella bukan siapa – siapa”. Satu tantangan dari keluargaku mulai muncul ketika adikku sendiri tidak setuju dengan hubunganku dengan Ella. Sindiran adikku sangat keras dengan perumpaman yang jelas bahwa Ella itu sampah yang tidak pantas buat aku. Adikku bilang, “ Mas, kalo sampah itu akan tetap sampah walau pun kita pajang dia di ruang tamu di bingkai dengan kaca dan ditaruh diatas meja jati ukiran yang mahal sekali pun, orang akan tetap mengatakan itu sampah”.
Aku pun tidak bisa marah sama adikku, sebab aku pun yakin bahwa dia tidak ingin kakaknya salah pilih dan menyesai dikemudian hari.
Aku jawab keresahan adikku itu dengan halus dan penuh kesabaran,” Kamu tau nggak tidak ada satu wanita pun yang mau punya nasib sepeti dia”.
“Ini yang di sebut takdir, dan aku juga tidak bisa menolak kalo Ella itu harus jadi istriku, karena manusia Cuma bisa berencana dan Allah juga yang menentukan”, jawabku. Tapi adikku masih belum bisa terima apa yang aku sampaikan tapi kritik dan sindiran dari dia sudah mulai berkurang. “Terserah mas lah, aku Cuma bilangin aja”, adikku dengan nada kesal.

Tunggu Lanjutannya......................

3 komentar:

Anonim mengatakan...

Assalamu'alaikum wr. wb.

Kita sebagai manusia memang diciptakan untuk saling berpasang-pasangan jadi karena masi belum berakhir disini nanti aku tunggu sobat.
Ada beberapa point yang sayang Mas sendiri yang keluarkan dari mulut mas sedangkan Allah aja dengan Rahmatnya mau menutup Aip kita .... ya yang pasti aku tunggu kelanjutannya.

Yuanita mengatakan...

Bujug,, sebelumnya,, ini bener2 kisah nya mas hendra tah?

yuh,, klo mas Hendra dah siap dengan segala resiko berhubungan dgn ella,, it's ok..

eh,, tp.. sekali lagi..

g penting masa lalunya,, yang penting, seperti apa ke depannya, klo dia mau berubah jadi lebih baik,, why not..

dan,, apa yah,, saya g begitu ngerti juga c, masalah se komplex ini,, heehee

Anonim mengatakan...

"saving ella" akhirnya berkembang jadi "aku dan ella" ya mas...(masih terbengong-bengong loh aku)

secara pribadi mas...aku dukung penuh kalo bener2 "aku dan ella" nantinya berubah jadi "Mr & Mrs Hendra" huhuhu

Jangan liat masa lalunya mas...mantapkan hati, percayakan sama Yg Punya Hidup...yakin mas kalo niat mas & mbak baik...pasti diberi terang olehNYA

sekedar perumpamaan saja mas...
Durian luarnya ancur tapi dalemnya luar biasa putih dan halus
Kebalikannya kedondong luarnya mulus licin tapi dalemnya ancur

so...baik buruk jangan hanya dilihat dari satu sisi saja mas...baik buruknya calon "Ny. Hendra"...mestinya mas sendiri yg tau hehehe

CHeers mas...
-aku dukung sepenuhnya-