Hari yang ditunggu pun akhirnya datang juga. Sabtu minggu lalu jam 2 siang handphoneku bunyi, aku liat nomer penelpon, ya aku nggak tau dari siapa.
“Hallo…….”, suaraku menjawab pangilan di hpku.
“Assalamu’allaikum.............. mas hendra”, suara wanita yang mengucapkan salam.
Aku ingat itu suara bu Endang, dan aku balas salamnya,“Walaikumsallam...........bu”.
“Apa nggak nganggu nih ....mas”, tanya bu Endang.
“Oh....nggak hari ini saya memang lagi dirumah dan nggak ada acara kemana-mana”, jawabku.
“Biasanya kalo sabtu ke lapangan liat kerjaan.....he..he..he..”, guyon bu Endang.
Ya memang di lingkungan bidang usahaku memang biasanya hari sabtu sering dihabiskan dilapangan menyelesaikan masalah pembayaran tenaga kerja. Bu Endang hapal karena suaminya mempunyai usaha yang sama dengan aku.
”Nggak tau bu hari ini saya lagi males dan udah saya suruh adik saya ke lapangan......apa karena mau di telpon bu Endang ya?......ha...ha....ha...”, jawabku juga.
”Mas kalo nggak ngerepotin saya pingin ngobrol sama mas hendra”, kata bu Endang.
”Kok ....ngerepotin sih”, jawabku.
”Katanya lagi males kemana-mana”, katanya lagi.
”Kan ke lapangan....... ibu dimana sekarang?”,tanyaku.
”Saya di tempat ibu saya di Jalan Kartini........taukan mas?”, jawab bu Endang.
”Baik bu saya ke situ setengah jam lagi”, kataku.
”Terimakasih ya mas.......Assalamu’alaikum”, kata bu Endang sambil menutup telponnya.
”Walaikumsalam”.
Aku pun bergegas ke kamar ku untuk ganti baju, memang jarak dari rumahku ke tempat orang tua bu Endang tidak jauh kira-kira 5 menit kalo naik sepeda motor.
Aku sempatkan makan siang dulu, dari pagi rasa males ngapa-ngapain memang.
Kira-kira jam 3 sore aku pamit ke ibuku untuk ketemu temen, kalo aku bilang ketemu bu Endang pasti akan banyak pertanyaan.
Aku pun berangkat menuju rumah orang tua bu Endang. Tepat di depan rumah orang tua bu Endang aku lihat mobil kijang warna merah hati dan aku yakin itu milik bos Ella.
Tampak seorang ibu setengah baya tengah berdiri di depan rumah itu dan seperti menyuruh seorang pembantu untuk membersihkan halaman depan.
”Mas hendra masuk .............mas”, kata ibu setengah baya itu yang tidak lain adalah bu Endang.
”Lagi bersih-bersih ya bu”, kataku sambil memasukan sepeda motorku ke halaman rumah. Rumah orang tua bu Endang memang luas dan tepat didepan jalan besar dengan pagar besar dari besi.
”Iya mas......kasihan ibu kan sendirian jadi sebulan sekali saya bawa pembantu buat bersih-bersih”, jawab bu Endang.
”Kalo gitu saya nganggu bu?”, tanyaku lagi.
”Ya nggak mas hendra kan sengaja saya undang kesini”, jawab bu Endang sambil berjabatan tangan dengan ku.
”Masuk sini mas......kita ngobrol di dalam aja”, lanjutnya.
Akupun masuk ke dalam rumah, aku liat ada seorang nenek kira-kira umurnya hampir 90 tahun itulah ibu dari bu Endang. Dan seorang supir keluarga bos Ella, dan aku kenal namanya pak Harto. Pak Harto ini nggak disukai bos Ella karena lebih dekat dengan bu Endang, jadi setiap kelakuan bos Ella pasti dilaporkan ke bu Endang. Aku juga tau dari bos Ella sendiri.
Tepat diruang tamu dengan sofa yang kelihatan masih baru aku pandangi seluruh ruangan dan foto yang terpajang diruangan itu. Bu Endang anak tunggal jadi foto yang ada diruangan ya foto keluarga bos Ella bersama anak-anaknya.
“Maaf lo mas sambil dibersihin”, kata Bu Endang.
Sambil memberi petunjuk pada pembantunya kalo nggak salah namanya Yati, yati ini bisu dan tuli, untuk ngepel lantai depan dulu karena ruang tamu ada aku.
“Nggak pa pa kok bu”, jawabku.
“Kita langsung cerita aja ya mas”, bu Endang berkata sambil mengulurkan tangan menyuruh aku duduk.
“Sebetulnya apa sih maksud mas hendra suka dengan SI JEM”, kata bu Endang.
”Si Jem...? siapa bu”, tanyaku penuh keheranan.
Dengan senyum dan suara tertawa lirih bu Endang bilang.
”Si Jem itu ya Ella”.
“Anak-anak kalo nyebut nama Ella pasti Si Jem”, kata bu Endang.
“Oh……jadi Si Jem itu Ella”, aku pun ikut tersenyum dalam hati ku bertanya berarti selama ini anak-anak bu Endang telah tau sejauh mana hubungan bapaknya dengan Ella.
“Kok bisa di kasih nama Si Jem?”, tanyaku penuh selidik.
“Ya pastinya nggak tau kenapa, dari empat anak saya semua ya menyebut Ella ya Si Jem”, Jawab bu Endang.
“Kenapa bisa suka sama Si Jem?”, tanya bu Endang lagi
“Saya cuma kasihan aja bu sama Ella”, aku menjawab dari bu Endang.
”Apa pantas di kasihani mas?”, tanya bu Endang tampak kurang senang.
”Ini bukan yang pertama Si Jem pacaran dengan laki-laki selain bapak”.
”Tapi semuanya sama mas.........nggak ada yang jadi, apa karena suami saya yang nggak mau melepas atau memang Si Jem yang nggak tau malu”, tambah bu Endang.
”Menurut saya kok nggak pas, kalo mas hendra tau semua tiba-tiba bisa bilang kasihan”, tambah bu Endang.
”Saya cuma tidak bisa membayangkan kalo Ella itu adik saya.............bu”, jawabku.
”Mas ...... punya bayangan juga nggak kalo saya ibu mas hendra”, kata bu Endang.
Pandangan yang tajam ke arahku yang membuat aku terdiam dan mulai binggung.
”Jangan bingung mas...... saya kan bukan ibu mas hendra”, dengan senyum yang membuat aku bisa bernafas panjang. Jadi bu Endang lebih obyektif untuk menilai aku sebagai orang lain yang ada dalam cerita rumah tangganya.
Dari dalam Yati datang membawa dua buah cangkir teh hangat. Aku minta ijin untuk menyalakan rokokku, bu Endang dengan bahasa isyarat menyuruh Yati mengambil asbak buat aku.
“Iya mas kemarin saya baru pulang dari Jogja, seperti yang saya sampaikan di telpon, saya udah bicara dengan anak saya”.
“Saya sampaikan bahwa belum ada pernikahan antara Si Jem dengan bapak mereka”, kata bu Endang lagi.
”Apa dengan semua anak-anak bu?”, tanya ku
”Oh nggak cuma sama Mai anak sulung saya”, kata bu Endang.
”Trus mas hendra pengen tau apa jawaban anak saya”.
Aku pun binggung kenapa jawaban dari anaknya di tanyakan padaku, semakin aku nggak ngerti maksud dari bu Endang.
”Apa yang di katakan Mai bu?”, aku bertanya.
”Mai bilang sama saya mas”.
“Apa ibu percaya dengan orang-orang di link nya bapak”.
”Mereka kan sudah bisa menikmati kebohongannya bapak selama ini”, kata Mai.
’Jangan-jangan ini cuma konspirasi aja untuk sebuah pengakuan aja”, kata-kata Mai yang di ceritakan ulang bu Endang kepadaku.
”Kalo saya tidak pernah ingin menjadi pahlawan atau apapun di keluarga ibu dan bapak, tulus saya cuma mau nolong Ella”, jawabku.
”Itu sudah saya sampaikan mas.....sama anak saya”, kata bu Endang.
”Yah .......... itu yang harus mas hendra tau bahwa anak-anak tidak percaya begitu aja”, tambah bu Endang.
”Ini semua yang dari dulu saya takutkan mas........ bahwa anak-anak sudah antipati dulu kalo ada orang yang berusaha meyakinkan kalo bapak mereka belum melakukan pernikahan dengan Si Jem”.
”Semua proteksi untuk anak-anak saya tau seperti bapaknya sudah saya coba mas, tapi mereka tau dari banyak orang di luar sana”, jelas bu Endang dengan mata yang mulai berembun air mata.
Entah sudah berapa batang rokok aku hisap, sampai ibu Endang permisi untuk sholat Ashar dulu.
”Mas...... saya sholat Ashar dulu ya, kalo mas hendra mau sholat disana ada sajadah udah disiapkan”, kata bu Endang.
”Iya bu ”, jawabku.
Aku pun menuju tepat wudhu tak lepas mataku melihat dinding ruang yang dihiasi foto-foto keluarga dari bos Ella dengan bu Endang serta anak-anak mereka.
TAKUT BOSEN BACANYA BERLANJUT YA ...........................
1 komentar:
makin lama makin berkembang nih mas hendra...ditunggu kelanjutannya hehe
Posting Komentar