Laman

Jumat, 29 Februari 2008

Bagian Terakhir Si Jem

Setelah aku selesai sholat, akupun kembali ke ruang tamu. Bu Endang tengah membuka bungkusan sate diatas piring.
”Ini mas sambil makan sate ayam, udah pesen dari tadi tapi baru dianter”, kata bu Endang.
”Iya bu... malah jadi ngerepotin”, kataku penuh basa-basi, sebetulnya aku masih agak kenyang.
”Mas.... saya dengar mas hendra udah ngelamar dan ibu mas hendra udah ke rumah Ella”, tanya bu Endang.
“Nggak bu …… belum pernah ngelamar Ella, waktu itu saya cuma ketemu orang tuanya dan keluarganya”.
“Saya waktu itu bilang sedang dekat dengan Ella di depan ibu dan bapaknya serta tante-tantenya Ella”, jelasku.
“Katanya ibu mas hendra juga pernah ke rumah Ella”, tanya bu Endang.
“Oh …… nggak bu, memang waktu itu saya ajak njemput Ella tapi ibu saya tidak turun dari mobil”, jawabku.
Memang rumah Ella di gang nggak jauh dari jalan besar memang tapi mobil tidak bisa masuk.
"Iya ibu saya memang suka dengan Ella, sering ibu saya tanya hal-hal tentang Ella tapi saya jawab sebatas tidak akan ada pertanyaan berikutnya", tambahku lagi.
"Maksud mas hendra gimana?......tidak ada pertanyaan berikutnya?", tanya bu Endang.
"Ibu saya pernah tanya hubungan Ella dengan bapak?", jawabku.
"Sebab pernah sebelumnya ibu saya ketemu dengan bapak dan Ella di rumah makan", tambahku.
"Mungkin filling seorang wanita lebih kuat ya bu?", kataku.
"Mas apa bapak pernah bicara kenapa tidak bisa melepas Ella?", tanya bu Endang.
Sambil menghabiskan makanan aku pun menjawab pertanyaan bu Endang.
"Alasan bapak karena rasa bersalah bapak sudah merusak Ella dan tidak bisa menikahi Ella seperti apa yang Ella minta".
"Tapi saya juga heran dengan bapak, begitu tau kalo Ella suka dengan saya pun bapak belum bisa melepas Ella bu", jawabku lagi.
Kami ngobrol lama hingga hampir magrib, aku pun merasa bu Endang tau maksudku ingin pamit pulang.
"Pesan saya buat mas hendra jauhilah Ella".
"Inget mas .......... bahwa kalo kita yakin ke depan tidak akan baik buat apa diteruskan", pesan bu Endang.
Aku pun cuma bisa menganggukan kepala tanpa berkata-kata.
"Mas nanti kalo saya ganggu lagi nggak apa-apakan mas?", kata bu Endang.
"Oh nggak apa kok bu", jawabku.
"Kalo gitu saya pamit ya bu", kataku sambil berpamitan dengan yang lain yang ada diruangan itu.
Aku pun pulang dengan banyak pertanyaan kok bisa ya seorang wanita yang diduakan malah menasehati aku untuk meninggalkan wanita yang merusak rumah tangganya. Ada orang yang rela dan tidak membiarkan orang lain disakiti oleh wanita yang sama. Itu baru pikiranku sendiri yang belum memahami sepenuhnya arti pertemuan dan pembicaraan tadi. Sebetulnya kurang kalo ingin tau sebenarnya, tapi waktunya yang terlalu pendek karena aku ada janji dengan keponakanku untuk jalan-jalan malem mingguan. Maklum udah jadi paman. Sampai sini dulu ya ceritanya, besok aku mau cerita pacarku yang baru gimana setuju nggak.

T A M A T

Tidak ada komentar: