Setelah aku selesai sholat, akupun kembali ke ruang tamu. Bu Endang tengah membuka bungkusan sate diatas piring.
”Ini mas sambil makan sate ayam, udah pesen dari tadi tapi baru dianter”, kata bu Endang.
”Iya bu... malah jadi ngerepotin”, kataku penuh basa-basi, sebetulnya aku masih agak kenyang.
”Mas.... saya dengar mas hendra udah ngelamar dan ibu mas hendra udah ke rumah Ella”, tanya bu Endang.
“Nggak bu …… belum pernah ngelamar Ella, waktu itu saya cuma ketemu orang tuanya dan keluarganya”.
“Saya waktu itu bilang sedang dekat dengan Ella di depan ibu dan bapaknya serta tante-tantenya Ella”, jelasku.
“Katanya ibu mas hendra juga pernah ke rumah Ella”, tanya bu Endang.
“Oh …… nggak bu, memang waktu itu saya ajak njemput Ella tapi ibu saya tidak turun dari mobil”, jawabku.
Memang rumah Ella di gang nggak jauh dari jalan besar memang tapi mobil tidak bisa masuk.
"Iya ibu saya memang suka dengan Ella, sering ibu saya tanya hal-hal tentang Ella tapi saya jawab sebatas tidak akan ada pertanyaan berikutnya", tambahku lagi.
"Maksud mas hendra gimana?......tidak ada pertanyaan berikutnya?", tanya bu Endang.
"Ibu saya pernah tanya hubungan Ella dengan bapak?", jawabku.
"Sebab pernah sebelumnya ibu saya ketemu dengan bapak dan Ella di rumah makan", tambahku.
"Mungkin filling seorang wanita lebih kuat ya bu?", kataku.
"Mas apa bapak pernah bicara kenapa tidak bisa melepas Ella?", tanya bu Endang.
Sambil menghabiskan makanan aku pun menjawab pertanyaan bu Endang.
"Alasan bapak karena rasa bersalah bapak sudah merusak Ella dan tidak bisa menikahi Ella seperti apa yang Ella minta".
"Tapi saya juga heran dengan bapak, begitu tau kalo Ella suka dengan saya pun bapak belum bisa melepas Ella bu", jawabku lagi.
Kami ngobrol lama hingga hampir magrib, aku pun merasa bu Endang tau maksudku ingin pamit pulang.
"Pesan saya buat mas hendra jauhilah Ella".
"Inget mas .......... bahwa kalo kita yakin ke depan tidak akan baik buat apa diteruskan", pesan bu Endang.
Aku pun cuma bisa menganggukan kepala tanpa berkata-kata.
"Mas nanti kalo saya ganggu lagi nggak apa-apakan mas?", kata bu Endang.
"Oh nggak apa kok bu", jawabku.
"Kalo gitu saya pamit ya bu", kataku sambil berpamitan dengan yang lain yang ada diruangan itu.
Aku pun pulang dengan banyak pertanyaan kok bisa ya seorang wanita yang diduakan malah menasehati aku untuk meninggalkan wanita yang merusak rumah tangganya. Ada orang yang rela dan tidak membiarkan orang lain disakiti oleh wanita yang sama. Itu baru pikiranku sendiri yang belum memahami sepenuhnya arti pertemuan dan pembicaraan tadi. Sebetulnya kurang kalo ingin tau sebenarnya, tapi waktunya yang terlalu pendek karena aku ada janji dengan keponakanku untuk jalan-jalan malem mingguan. Maklum udah jadi paman. Sampai sini dulu ya ceritanya, besok aku mau cerita pacarku yang baru gimana setuju nggak.
T A M A T
Catatan Pribadi,Opini,Pandangan Hidup,Belajar Menulis Jujur dan Belajar Mentertawakan Diri Sendiri.
Jumat, 29 Februari 2008
Selasa, 26 Februari 2008
Siapa Si Jem?
Hari yang ditunggu pun akhirnya datang juga. Sabtu minggu lalu jam 2 siang handphoneku bunyi, aku liat nomer penelpon, ya aku nggak tau dari siapa.
“Hallo…….”, suaraku menjawab pangilan di hpku.
“Assalamu’allaikum.............. mas hendra”, suara wanita yang mengucapkan salam.
Aku ingat itu suara bu Endang, dan aku balas salamnya,“Walaikumsallam...........bu”.
“Apa nggak nganggu nih ....mas”, tanya bu Endang.
“Oh....nggak hari ini saya memang lagi dirumah dan nggak ada acara kemana-mana”, jawabku.
“Biasanya kalo sabtu ke lapangan liat kerjaan.....he..he..he..”, guyon bu Endang.
Ya memang di lingkungan bidang usahaku memang biasanya hari sabtu sering dihabiskan dilapangan menyelesaikan masalah pembayaran tenaga kerja. Bu Endang hapal karena suaminya mempunyai usaha yang sama dengan aku.
”Nggak tau bu hari ini saya lagi males dan udah saya suruh adik saya ke lapangan......apa karena mau di telpon bu Endang ya?......ha...ha....ha...”, jawabku juga.
”Mas kalo nggak ngerepotin saya pingin ngobrol sama mas hendra”, kata bu Endang.
”Kok ....ngerepotin sih”, jawabku.
”Katanya lagi males kemana-mana”, katanya lagi.
”Kan ke lapangan....... ibu dimana sekarang?”,tanyaku.
”Saya di tempat ibu saya di Jalan Kartini........taukan mas?”, jawab bu Endang.
”Baik bu saya ke situ setengah jam lagi”, kataku.
”Terimakasih ya mas.......Assalamu’alaikum”, kata bu Endang sambil menutup telponnya.
”Walaikumsalam”.
Aku pun bergegas ke kamar ku untuk ganti baju, memang jarak dari rumahku ke tempat orang tua bu Endang tidak jauh kira-kira 5 menit kalo naik sepeda motor.
Aku sempatkan makan siang dulu, dari pagi rasa males ngapa-ngapain memang.
Kira-kira jam 3 sore aku pamit ke ibuku untuk ketemu temen, kalo aku bilang ketemu bu Endang pasti akan banyak pertanyaan.
Aku pun berangkat menuju rumah orang tua bu Endang. Tepat di depan rumah orang tua bu Endang aku lihat mobil kijang warna merah hati dan aku yakin itu milik bos Ella.
Tampak seorang ibu setengah baya tengah berdiri di depan rumah itu dan seperti menyuruh seorang pembantu untuk membersihkan halaman depan.
”Mas hendra masuk .............mas”, kata ibu setengah baya itu yang tidak lain adalah bu Endang.
”Lagi bersih-bersih ya bu”, kataku sambil memasukan sepeda motorku ke halaman rumah. Rumah orang tua bu Endang memang luas dan tepat didepan jalan besar dengan pagar besar dari besi.
”Iya mas......kasihan ibu kan sendirian jadi sebulan sekali saya bawa pembantu buat bersih-bersih”, jawab bu Endang.
”Kalo gitu saya nganggu bu?”, tanyaku lagi.
”Ya nggak mas hendra kan sengaja saya undang kesini”, jawab bu Endang sambil berjabatan tangan dengan ku.
”Masuk sini mas......kita ngobrol di dalam aja”, lanjutnya.
Akupun masuk ke dalam rumah, aku liat ada seorang nenek kira-kira umurnya hampir 90 tahun itulah ibu dari bu Endang. Dan seorang supir keluarga bos Ella, dan aku kenal namanya pak Harto. Pak Harto ini nggak disukai bos Ella karena lebih dekat dengan bu Endang, jadi setiap kelakuan bos Ella pasti dilaporkan ke bu Endang. Aku juga tau dari bos Ella sendiri.
Tepat diruang tamu dengan sofa yang kelihatan masih baru aku pandangi seluruh ruangan dan foto yang terpajang diruangan itu. Bu Endang anak tunggal jadi foto yang ada diruangan ya foto keluarga bos Ella bersama anak-anaknya.
“Maaf lo mas sambil dibersihin”, kata Bu Endang.
Sambil memberi petunjuk pada pembantunya kalo nggak salah namanya Yati, yati ini bisu dan tuli, untuk ngepel lantai depan dulu karena ruang tamu ada aku.
“Nggak pa pa kok bu”, jawabku.
“Kita langsung cerita aja ya mas”, bu Endang berkata sambil mengulurkan tangan menyuruh aku duduk.
“Sebetulnya apa sih maksud mas hendra suka dengan SI JEM”, kata bu Endang.
”Si Jem...? siapa bu”, tanyaku penuh keheranan.
Dengan senyum dan suara tertawa lirih bu Endang bilang.
”Si Jem itu ya Ella”.
“Anak-anak kalo nyebut nama Ella pasti Si Jem”, kata bu Endang.
“Oh……jadi Si Jem itu Ella”, aku pun ikut tersenyum dalam hati ku bertanya berarti selama ini anak-anak bu Endang telah tau sejauh mana hubungan bapaknya dengan Ella.
“Kok bisa di kasih nama Si Jem?”, tanyaku penuh selidik.
“Ya pastinya nggak tau kenapa, dari empat anak saya semua ya menyebut Ella ya Si Jem”, Jawab bu Endang.
“Kenapa bisa suka sama Si Jem?”, tanya bu Endang lagi
“Saya cuma kasihan aja bu sama Ella”, aku menjawab dari bu Endang.
”Apa pantas di kasihani mas?”, tanya bu Endang tampak kurang senang.
”Ini bukan yang pertama Si Jem pacaran dengan laki-laki selain bapak”.
”Tapi semuanya sama mas.........nggak ada yang jadi, apa karena suami saya yang nggak mau melepas atau memang Si Jem yang nggak tau malu”, tambah bu Endang.
”Menurut saya kok nggak pas, kalo mas hendra tau semua tiba-tiba bisa bilang kasihan”, tambah bu Endang.
”Saya cuma tidak bisa membayangkan kalo Ella itu adik saya.............bu”, jawabku.
”Mas ...... punya bayangan juga nggak kalo saya ibu mas hendra”, kata bu Endang.
Pandangan yang tajam ke arahku yang membuat aku terdiam dan mulai binggung.
”Jangan bingung mas...... saya kan bukan ibu mas hendra”, dengan senyum yang membuat aku bisa bernafas panjang. Jadi bu Endang lebih obyektif untuk menilai aku sebagai orang lain yang ada dalam cerita rumah tangganya.
Dari dalam Yati datang membawa dua buah cangkir teh hangat. Aku minta ijin untuk menyalakan rokokku, bu Endang dengan bahasa isyarat menyuruh Yati mengambil asbak buat aku.
“Iya mas kemarin saya baru pulang dari Jogja, seperti yang saya sampaikan di telpon, saya udah bicara dengan anak saya”.
“Saya sampaikan bahwa belum ada pernikahan antara Si Jem dengan bapak mereka”, kata bu Endang lagi.
”Apa dengan semua anak-anak bu?”, tanya ku
”Oh nggak cuma sama Mai anak sulung saya”, kata bu Endang.
”Trus mas hendra pengen tau apa jawaban anak saya”.
Aku pun binggung kenapa jawaban dari anaknya di tanyakan padaku, semakin aku nggak ngerti maksud dari bu Endang.
”Apa yang di katakan Mai bu?”, aku bertanya.
”Mai bilang sama saya mas”.
“Apa ibu percaya dengan orang-orang di link nya bapak”.
”Mereka kan sudah bisa menikmati kebohongannya bapak selama ini”, kata Mai.
’Jangan-jangan ini cuma konspirasi aja untuk sebuah pengakuan aja”, kata-kata Mai yang di ceritakan ulang bu Endang kepadaku.
”Kalo saya tidak pernah ingin menjadi pahlawan atau apapun di keluarga ibu dan bapak, tulus saya cuma mau nolong Ella”, jawabku.
”Itu sudah saya sampaikan mas.....sama anak saya”, kata bu Endang.
”Yah .......... itu yang harus mas hendra tau bahwa anak-anak tidak percaya begitu aja”, tambah bu Endang.
”Ini semua yang dari dulu saya takutkan mas........ bahwa anak-anak sudah antipati dulu kalo ada orang yang berusaha meyakinkan kalo bapak mereka belum melakukan pernikahan dengan Si Jem”.
”Semua proteksi untuk anak-anak saya tau seperti bapaknya sudah saya coba mas, tapi mereka tau dari banyak orang di luar sana”, jelas bu Endang dengan mata yang mulai berembun air mata.
Entah sudah berapa batang rokok aku hisap, sampai ibu Endang permisi untuk sholat Ashar dulu.
”Mas...... saya sholat Ashar dulu ya, kalo mas hendra mau sholat disana ada sajadah udah disiapkan”, kata bu Endang.
”Iya bu ”, jawabku.
Aku pun menuju tepat wudhu tak lepas mataku melihat dinding ruang yang dihiasi foto-foto keluarga dari bos Ella dengan bu Endang serta anak-anak mereka.
TAKUT BOSEN BACANYA BERLANJUT YA ...........................
“Hallo…….”, suaraku menjawab pangilan di hpku.
“Assalamu’allaikum.............. mas hendra”, suara wanita yang mengucapkan salam.
Aku ingat itu suara bu Endang, dan aku balas salamnya,“Walaikumsallam...........bu”.
“Apa nggak nganggu nih ....mas”, tanya bu Endang.
“Oh....nggak hari ini saya memang lagi dirumah dan nggak ada acara kemana-mana”, jawabku.
“Biasanya kalo sabtu ke lapangan liat kerjaan.....he..he..he..”, guyon bu Endang.
Ya memang di lingkungan bidang usahaku memang biasanya hari sabtu sering dihabiskan dilapangan menyelesaikan masalah pembayaran tenaga kerja. Bu Endang hapal karena suaminya mempunyai usaha yang sama dengan aku.
”Nggak tau bu hari ini saya lagi males dan udah saya suruh adik saya ke lapangan......apa karena mau di telpon bu Endang ya?......ha...ha....ha...”, jawabku juga.
”Mas kalo nggak ngerepotin saya pingin ngobrol sama mas hendra”, kata bu Endang.
”Kok ....ngerepotin sih”, jawabku.
”Katanya lagi males kemana-mana”, katanya lagi.
”Kan ke lapangan....... ibu dimana sekarang?”,tanyaku.
”Saya di tempat ibu saya di Jalan Kartini........taukan mas?”, jawab bu Endang.
”Baik bu saya ke situ setengah jam lagi”, kataku.
”Terimakasih ya mas.......Assalamu’alaikum”, kata bu Endang sambil menutup telponnya.
”Walaikumsalam”.
Aku pun bergegas ke kamar ku untuk ganti baju, memang jarak dari rumahku ke tempat orang tua bu Endang tidak jauh kira-kira 5 menit kalo naik sepeda motor.
Aku sempatkan makan siang dulu, dari pagi rasa males ngapa-ngapain memang.
Kira-kira jam 3 sore aku pamit ke ibuku untuk ketemu temen, kalo aku bilang ketemu bu Endang pasti akan banyak pertanyaan.
Aku pun berangkat menuju rumah orang tua bu Endang. Tepat di depan rumah orang tua bu Endang aku lihat mobil kijang warna merah hati dan aku yakin itu milik bos Ella.
Tampak seorang ibu setengah baya tengah berdiri di depan rumah itu dan seperti menyuruh seorang pembantu untuk membersihkan halaman depan.
”Mas hendra masuk .............mas”, kata ibu setengah baya itu yang tidak lain adalah bu Endang.
”Lagi bersih-bersih ya bu”, kataku sambil memasukan sepeda motorku ke halaman rumah. Rumah orang tua bu Endang memang luas dan tepat didepan jalan besar dengan pagar besar dari besi.
”Iya mas......kasihan ibu kan sendirian jadi sebulan sekali saya bawa pembantu buat bersih-bersih”, jawab bu Endang.
”Kalo gitu saya nganggu bu?”, tanyaku lagi.
”Ya nggak mas hendra kan sengaja saya undang kesini”, jawab bu Endang sambil berjabatan tangan dengan ku.
”Masuk sini mas......kita ngobrol di dalam aja”, lanjutnya.
Akupun masuk ke dalam rumah, aku liat ada seorang nenek kira-kira umurnya hampir 90 tahun itulah ibu dari bu Endang. Dan seorang supir keluarga bos Ella, dan aku kenal namanya pak Harto. Pak Harto ini nggak disukai bos Ella karena lebih dekat dengan bu Endang, jadi setiap kelakuan bos Ella pasti dilaporkan ke bu Endang. Aku juga tau dari bos Ella sendiri.
Tepat diruang tamu dengan sofa yang kelihatan masih baru aku pandangi seluruh ruangan dan foto yang terpajang diruangan itu. Bu Endang anak tunggal jadi foto yang ada diruangan ya foto keluarga bos Ella bersama anak-anaknya.
“Maaf lo mas sambil dibersihin”, kata Bu Endang.
Sambil memberi petunjuk pada pembantunya kalo nggak salah namanya Yati, yati ini bisu dan tuli, untuk ngepel lantai depan dulu karena ruang tamu ada aku.
“Nggak pa pa kok bu”, jawabku.
“Kita langsung cerita aja ya mas”, bu Endang berkata sambil mengulurkan tangan menyuruh aku duduk.
“Sebetulnya apa sih maksud mas hendra suka dengan SI JEM”, kata bu Endang.
”Si Jem...? siapa bu”, tanyaku penuh keheranan.
Dengan senyum dan suara tertawa lirih bu Endang bilang.
”Si Jem itu ya Ella”.
“Anak-anak kalo nyebut nama Ella pasti Si Jem”, kata bu Endang.
“Oh……jadi Si Jem itu Ella”, aku pun ikut tersenyum dalam hati ku bertanya berarti selama ini anak-anak bu Endang telah tau sejauh mana hubungan bapaknya dengan Ella.
“Kok bisa di kasih nama Si Jem?”, tanyaku penuh selidik.
“Ya pastinya nggak tau kenapa, dari empat anak saya semua ya menyebut Ella ya Si Jem”, Jawab bu Endang.
“Kenapa bisa suka sama Si Jem?”, tanya bu Endang lagi
“Saya cuma kasihan aja bu sama Ella”, aku menjawab dari bu Endang.
”Apa pantas di kasihani mas?”, tanya bu Endang tampak kurang senang.
”Ini bukan yang pertama Si Jem pacaran dengan laki-laki selain bapak”.
”Tapi semuanya sama mas.........nggak ada yang jadi, apa karena suami saya yang nggak mau melepas atau memang Si Jem yang nggak tau malu”, tambah bu Endang.
”Menurut saya kok nggak pas, kalo mas hendra tau semua tiba-tiba bisa bilang kasihan”, tambah bu Endang.
”Saya cuma tidak bisa membayangkan kalo Ella itu adik saya.............bu”, jawabku.
”Mas ...... punya bayangan juga nggak kalo saya ibu mas hendra”, kata bu Endang.
Pandangan yang tajam ke arahku yang membuat aku terdiam dan mulai binggung.
”Jangan bingung mas...... saya kan bukan ibu mas hendra”, dengan senyum yang membuat aku bisa bernafas panjang. Jadi bu Endang lebih obyektif untuk menilai aku sebagai orang lain yang ada dalam cerita rumah tangganya.
Dari dalam Yati datang membawa dua buah cangkir teh hangat. Aku minta ijin untuk menyalakan rokokku, bu Endang dengan bahasa isyarat menyuruh Yati mengambil asbak buat aku.
“Iya mas kemarin saya baru pulang dari Jogja, seperti yang saya sampaikan di telpon, saya udah bicara dengan anak saya”.
“Saya sampaikan bahwa belum ada pernikahan antara Si Jem dengan bapak mereka”, kata bu Endang lagi.
”Apa dengan semua anak-anak bu?”, tanya ku
”Oh nggak cuma sama Mai anak sulung saya”, kata bu Endang.
”Trus mas hendra pengen tau apa jawaban anak saya”.
Aku pun binggung kenapa jawaban dari anaknya di tanyakan padaku, semakin aku nggak ngerti maksud dari bu Endang.
”Apa yang di katakan Mai bu?”, aku bertanya.
”Mai bilang sama saya mas”.
“Apa ibu percaya dengan orang-orang di link nya bapak”.
”Mereka kan sudah bisa menikmati kebohongannya bapak selama ini”, kata Mai.
’Jangan-jangan ini cuma konspirasi aja untuk sebuah pengakuan aja”, kata-kata Mai yang di ceritakan ulang bu Endang kepadaku.
”Kalo saya tidak pernah ingin menjadi pahlawan atau apapun di keluarga ibu dan bapak, tulus saya cuma mau nolong Ella”, jawabku.
”Itu sudah saya sampaikan mas.....sama anak saya”, kata bu Endang.
”Yah .......... itu yang harus mas hendra tau bahwa anak-anak tidak percaya begitu aja”, tambah bu Endang.
”Ini semua yang dari dulu saya takutkan mas........ bahwa anak-anak sudah antipati dulu kalo ada orang yang berusaha meyakinkan kalo bapak mereka belum melakukan pernikahan dengan Si Jem”.
”Semua proteksi untuk anak-anak saya tau seperti bapaknya sudah saya coba mas, tapi mereka tau dari banyak orang di luar sana”, jelas bu Endang dengan mata yang mulai berembun air mata.
Entah sudah berapa batang rokok aku hisap, sampai ibu Endang permisi untuk sholat Ashar dulu.
”Mas...... saya sholat Ashar dulu ya, kalo mas hendra mau sholat disana ada sajadah udah disiapkan”, kata bu Endang.
”Iya bu ”, jawabku.
Aku pun menuju tepat wudhu tak lepas mataku melihat dinding ruang yang dihiasi foto-foto keluarga dari bos Ella dengan bu Endang serta anak-anak mereka.
TAKUT BOSEN BACANYA BERLANJUT YA ...........................
Kamis, 21 Februari 2008
Tinggal Kenangan
Kabar tentang Ella hanya bisa aku dengar tanpa bisa aku konfirmasi langsung dari Ella. Semua itu mungkin juga salahku yang terlalu buru-buru, atau memang tuhan sudah menunjukan yang terbaik untuk hubunganku dengan Ella. Banyak dukungan yang membuatku tegar menghadapi semua dan tentangan yang membuatku berpikir dan selalu berdoa mohon petunjuk dari Nya. Terakhir aku dengar bahwa bos Ella marah besar kepada aku dan mengatakan, aku tidak punya Etika aku anak kuliahan tapi tidak punya sopan santun pada orang tua, bukan manusia dan banyak makian yang lain. Itu semua cuma aku bisa dengar dari orang lain, karena Ella dan bosnya tidak pernah mau mengangkat telponku dan membalas smsku. Kadang emosiku terpancing untuk membalas semua ini, tapi setelah aku berani cerita di blog ini dan banyak dari pembaca juga memberi komentar aku lebih enjoy menghadapi semua ini. Walau cerita asmaraku dan Ella kurang lebih 3 bulan tapi serasa aku kenal betul dia. Wanita yang tegar dan rapuh, sifat yang bertentangan tapi dia miliki semu. Semua orang melihat Ella wanita yang tegar dengan menjadi istri kedua (hanya pengakuan) bosnya yang masih berkeluarga. Tapi sebetulnya sangat rapuh dalam dirinya untuk bisa menerima semua yang dia terima. Dia pernah putus asa dan mengatakan," tuhan kok nggak adil". Aku rela kalo Ella mendapatkan pendamping yang lebih baik dari aku. Itu pun pernah aku katakan keadanya, Aku siap meninggalkan mu ....la, kalo kamu dapatkan orang yang lebih baik dari pada aku".
Jumat, 15 Februari 2008
Telpon Yang Tidak Terduga
Aku nggak pingin bikin cerita Ella berkepanjangan tapi lebih ke diary pribadiku yang terus dan terus ada. Ini masih ada kaitannya dengan Ella dan Aku.
Tepat 2 hari setelah aku posting terakhir Aku dan Ella, tepat jam 4 sore ada telpon untuk aku ke nomor rumahku. Tapi aku tidak ada dirumah, kebetulan aku belum pulang. Setengah jam kemudian aku sampai rumah dan adikku bilang kalo tadi ada telpon dari Bu Endang.
Aku cuma tanya adikku, "bu Endang siapa ya?"
"Nggak tau", jawab adikku.
"Besok lagi tanya keperluannya",kataku
Aku pun tidak mikir yang macem-macem, karena capek dan trus aku mandi karena ada niatan kami sekeluarga berangkat ke Jogja malem itu.
Tepat selesai mandi dan ganti pakaian di kamarku, telpon rumahku berdering. Kriiiiing.......kriiing......kring.....
"Rim......angkat telponnya", jeritku dari kamar suruh adikku mengangkat telpon.
"Mas.... ada telpon dari bu Endang tuh", suara adikku dari balik pintu kamarku.
Buru-buru aku keluar dan aku angkat telpon,"Hallo....".
"Hallo ........ mas hendra ya?", suara dari telponku.
Aku tidak asing dengan suara itu, ya suara bu Endang istri dari bos nya Ella.
"Bu Endang ya.....ada apa bu?", tanyaku kaget.
"Nggak cuma mau telpon mas hendra aja", jawab bu Endang dengan penuh hati-hati.
Aku pun penuh basa-basi menanyakan kabar,"Gimana bu bapak sehatkan?".
Dengan pertanyaan itu bu Endang dengan tepat menyambar umpan pertanyaan dari aku dengan bertanya balik.
"Apa mas hendra udah nggak pernah kontak dengan bapak?", tanyanya
Aku pun terdiam karena binggung harus jawab apa.
"Ya ...... udah lama bu, bapak nggak mau angkat telpon saya",jawabku
"Iya mas, ingat nggak waktu mas telpon bapak waktu itu dan nggak diangkat ada saya disebelah bapak", jawab bu Endang.
Aku pun terdiam, sebetulnya ada apa ini?
"Maaf ya mas hendra, mas hendra mau melamar Ella.....?", tanya bu Endang.
Aku kaget dengan pertanyaan itu.
"Ibu tau dari siapa kalo saya mau melamar Ella....",jawabku
"Sebetulnya sudah agak lama.....tapi baru sekarang saya tanya mas hendra".
"Kemarin saya nggak sengaja baca sms mas hendra yang ditujukan ke Ella di hp bapak", jelas bu Endang.
Oh jadi selama ini aku sms ke Ella dan di tranfer ke hp bosnya, dalam hati ku berkata.
"Banyak mas, sampe sms mas hendra yang mau mencium kaki bapak kalo bapak mau menikahi Ella", Tambahnya lagi.
"Oh maksud saya cuma meyakinkan Ella bahwa bapak tidak akan menikahi Ella bu...", jawabku takut kalo bu Endang salah sangka dengan smsku itu.
"Iya mas saya tau", jawab bu Endang.
"Apa mas hendra tau siapa Ella sebenarnya?", tanyanya lagi.
"Tau bu.........saya tau semua baik dari Ella sendiri maupun dari bapak",jawabku.
"Bener mas hendra tau semua...........kenapa mau sama Ella",lanjutnya.
"Saya kasihan bu.......dan maaf saya bukan ingin jadi pahlawan di keluarga ibu, yang berusaha memisahkan Ella dengan bapak", jelas ku.
"Oh anda salah mas ...... buat saya sudah tidak peduli lagi dengan apa yang dilakukan suami saya",kata bu Endang.
"Maksud ibu apa?",tanya ku dengan perasaan kaget juga.
"Buat saya sekarang yang lebih penting adalah masalah dengan anak-anak saya mas".
"Karena saya nggak mau anak-anak saya jadi broken home dan liar setelah dia tau kelakuan bapaknya",tambahnya lagi.
"Saya cuma mau tanya apa Ella dan bapak sudah menikah resmi ataupu siri?", tanya bu Endang kepada aku.
"Belum bu......saya dapat keterangan bahwa mereka belum menikah yang dari bapak dan Ella sendiri",jawabku.
"Karena kata banyak orang bahwa mereka sudah menikah siri waktu saya naik haji tahu lalu",bu Endang kurang yakin.
Tahun Lalu memang bu Endang naik haji dengan anak laki-lakinya. Dan memang isu dimasyarakat di kampungnya memang santer kalo Ella di nikah siri oleh bosnya.
"Saya berani yakin belum bu,......karena keduanya saya tanya jawabannya sama, bahkan ke Ella saya tanya lebih dari satu kali".
"Alasannya Ella tidak mau dinikah siri dia maunya dinikah resmi",tambahku lagi.
"Apa mas hendra bener mau menikahi Ella?",tanya bu Endang lagi.
"Tadinya .... iya tapi sekarang saya lagi pikir-pikir bu",jawabku.
"Lho .... kok gitu?..... mas kalo pesan saya nggak usah mas",kata bu Endang.
Aku pun jadi tambah nggak ngerti maksud dari kata-kata bu Endang.
Seharusnya dia mendorong aku untuk menikahi Ella, supaya suaminya bisa lepas dari tanggung jawab kepada Ella.
Itu pikiranku tapi kok bu Endang malah mengingatkan aku untuk menjauhi Ella.
Lama telpon dari bu Endang sore itu hampir satu setengah jam.
"Mas saya cuma mau minta tolong mas hendra memberi tau anak-anak saya bahwa belum pernah ada pernikahan antara bapak dan Ella", pinta bu Endang.
"Saya nggak ingin ada dendam anak-anak saya kepada Ella,.....buat saya, Ella juga akan jadi calon ibu pasti akan tau apa yang saya rasakan sekarang mas",tambah bu Endang.
"Hubungan saya dengan Ella udah selesai bu,....... tapi untuk meyakinkan semua bahwa tidak pernah ada pernikahan antara Ella dan bapak saya siap bu",jawabku.
"Terima kasih ....... mas, nanti saya akan bicara dengan anak saya yang sulung karena dia juga tau masalah ini", kata bu Endang.
"Nanti saya telpon lagi mas hendra untuk bisa bicara bareng sama anak saya", tambahnya lagi.
"Baik bu saya siap bantu kalo itu bisa membuat baik semua",jawabku.
"Assalamu'aikum".
"Walaikum salam" jawabku telpon pun terputus.
Minta komentar dan aku harus gimana kalo ketemu anak-anaknya bu Endang.
Tepat 2 hari setelah aku posting terakhir Aku dan Ella, tepat jam 4 sore ada telpon untuk aku ke nomor rumahku. Tapi aku tidak ada dirumah, kebetulan aku belum pulang. Setengah jam kemudian aku sampai rumah dan adikku bilang kalo tadi ada telpon dari Bu Endang.
Aku cuma tanya adikku, "bu Endang siapa ya?"
"Nggak tau", jawab adikku.
"Besok lagi tanya keperluannya",kataku
Aku pun tidak mikir yang macem-macem, karena capek dan trus aku mandi karena ada niatan kami sekeluarga berangkat ke Jogja malem itu.
Tepat selesai mandi dan ganti pakaian di kamarku, telpon rumahku berdering. Kriiiiing.......kriiing......kring.....
"Rim......angkat telponnya", jeritku dari kamar suruh adikku mengangkat telpon.
"Mas.... ada telpon dari bu Endang tuh", suara adikku dari balik pintu kamarku.
Buru-buru aku keluar dan aku angkat telpon,"Hallo....".
"Hallo ........ mas hendra ya?", suara dari telponku.
Aku tidak asing dengan suara itu, ya suara bu Endang istri dari bos nya Ella.
"Bu Endang ya.....ada apa bu?", tanyaku kaget.
"Nggak cuma mau telpon mas hendra aja", jawab bu Endang dengan penuh hati-hati.
Aku pun penuh basa-basi menanyakan kabar,"Gimana bu bapak sehatkan?".
Dengan pertanyaan itu bu Endang dengan tepat menyambar umpan pertanyaan dari aku dengan bertanya balik.
"Apa mas hendra udah nggak pernah kontak dengan bapak?", tanyanya
Aku pun terdiam karena binggung harus jawab apa.
"Ya ...... udah lama bu, bapak nggak mau angkat telpon saya",jawabku
"Iya mas, ingat nggak waktu mas telpon bapak waktu itu dan nggak diangkat ada saya disebelah bapak", jawab bu Endang.
Aku pun terdiam, sebetulnya ada apa ini?
"Maaf ya mas hendra, mas hendra mau melamar Ella.....?", tanya bu Endang.
Aku kaget dengan pertanyaan itu.
"Ibu tau dari siapa kalo saya mau melamar Ella....",jawabku
"Sebetulnya sudah agak lama.....tapi baru sekarang saya tanya mas hendra".
"Kemarin saya nggak sengaja baca sms mas hendra yang ditujukan ke Ella di hp bapak", jelas bu Endang.
Oh jadi selama ini aku sms ke Ella dan di tranfer ke hp bosnya, dalam hati ku berkata.
"Banyak mas, sampe sms mas hendra yang mau mencium kaki bapak kalo bapak mau menikahi Ella", Tambahnya lagi.
"Oh maksud saya cuma meyakinkan Ella bahwa bapak tidak akan menikahi Ella bu...", jawabku takut kalo bu Endang salah sangka dengan smsku itu.
"Iya mas saya tau", jawab bu Endang.
"Apa mas hendra tau siapa Ella sebenarnya?", tanyanya lagi.
"Tau bu.........saya tau semua baik dari Ella sendiri maupun dari bapak",jawabku.
"Bener mas hendra tau semua...........kenapa mau sama Ella",lanjutnya.
"Saya kasihan bu.......dan maaf saya bukan ingin jadi pahlawan di keluarga ibu, yang berusaha memisahkan Ella dengan bapak", jelas ku.
"Oh anda salah mas ...... buat saya sudah tidak peduli lagi dengan apa yang dilakukan suami saya",kata bu Endang.
"Maksud ibu apa?",tanya ku dengan perasaan kaget juga.
"Buat saya sekarang yang lebih penting adalah masalah dengan anak-anak saya mas".
"Karena saya nggak mau anak-anak saya jadi broken home dan liar setelah dia tau kelakuan bapaknya",tambahnya lagi.
"Saya cuma mau tanya apa Ella dan bapak sudah menikah resmi ataupu siri?", tanya bu Endang kepada aku.
"Belum bu......saya dapat keterangan bahwa mereka belum menikah yang dari bapak dan Ella sendiri",jawabku.
"Karena kata banyak orang bahwa mereka sudah menikah siri waktu saya naik haji tahu lalu",bu Endang kurang yakin.
Tahun Lalu memang bu Endang naik haji dengan anak laki-lakinya. Dan memang isu dimasyarakat di kampungnya memang santer kalo Ella di nikah siri oleh bosnya.
"Saya berani yakin belum bu,......karena keduanya saya tanya jawabannya sama, bahkan ke Ella saya tanya lebih dari satu kali".
"Alasannya Ella tidak mau dinikah siri dia maunya dinikah resmi",tambahku lagi.
"Apa mas hendra bener mau menikahi Ella?",tanya bu Endang lagi.
"Tadinya .... iya tapi sekarang saya lagi pikir-pikir bu",jawabku.
"Lho .... kok gitu?..... mas kalo pesan saya nggak usah mas",kata bu Endang.
Aku pun jadi tambah nggak ngerti maksud dari kata-kata bu Endang.
Seharusnya dia mendorong aku untuk menikahi Ella, supaya suaminya bisa lepas dari tanggung jawab kepada Ella.
Itu pikiranku tapi kok bu Endang malah mengingatkan aku untuk menjauhi Ella.
Lama telpon dari bu Endang sore itu hampir satu setengah jam.
"Mas saya cuma mau minta tolong mas hendra memberi tau anak-anak saya bahwa belum pernah ada pernikahan antara bapak dan Ella", pinta bu Endang.
"Saya nggak ingin ada dendam anak-anak saya kepada Ella,.....buat saya, Ella juga akan jadi calon ibu pasti akan tau apa yang saya rasakan sekarang mas",tambah bu Endang.
"Hubungan saya dengan Ella udah selesai bu,....... tapi untuk meyakinkan semua bahwa tidak pernah ada pernikahan antara Ella dan bapak saya siap bu",jawabku.
"Terima kasih ....... mas, nanti saya akan bicara dengan anak saya yang sulung karena dia juga tau masalah ini", kata bu Endang.
"Nanti saya telpon lagi mas hendra untuk bisa bicara bareng sama anak saya", tambahnya lagi.
"Baik bu saya siap bantu kalo itu bisa membuat baik semua",jawabku.
"Assalamu'aikum".
"Walaikum salam" jawabku telpon pun terputus.
Minta komentar dan aku harus gimana kalo ketemu anak-anaknya bu Endang.
Senin, 11 Februari 2008
AKU DAN ELLA ( bagian terakhir )
Akhirnya apa yang aku pikirkan terbukti, bahwa bos Ella tidak akan rela melepaskan dan merelakan Ella dengan laki-laki lain. Perjalanan saving Ella pun harus berhenti karena sikap Ella sendiri yang tidak pernah tegas untuk memilih aku apa bosnya.
Setelah hampir satu bulan aku dan Ella pacaran, akhirnya Ella memberanikan diri untuk menulis surat ke bosnya, isi surat itu :
Apa sebenarnya semua ini karena bapak kecewa dengan sikap saya akhir-akhir ini yang mungkin menurut bapak terlalu berani dan melawan bapak ? Selama ini bapak banyak mengajarkan saya untuk bisa bersikap tegas dan berani sepanjang kita yakin hal itu benar. Ketika saya mulai bisa membangun keberanian dan ketegasan sikap untuk diriku sendiri, malah jadi dianggap melawan bapak. Mungkin saya memang baru bisa membela diri saya sendiri. Sepanjang enam tahun kebersamaan kita mungkin saya memang sudah terlalu banyak menuntut sama bapak. Dan terakhir saya menuntut untuk bapak menikahi saya. Tapi beberapa hari yang lalu bapak marah besar atas permintaanku itu. Itu bukan cinta murni tapi lebih tepat dianggap cinta lonte. Itu pendapat bapak saat itu. Sakit hati sekali waktu aku mendengar hal itu. Tapi aku harus sadar kondisi bapak sedang emosi saat itu. Lebih baik saya diam kan ? Aku tak berani menyinggung hal itu lagi. Saya tau itu menyinggung perasaan bapak. Saya tau itu keputusan yang sulit buat bapak. Dan bapak juga harus tau bahwa hal itu juga sulit untuk bisa aku terima. Ternyata pendapat kita tentang cinta dan pernikahan berbeda jauh. Walau saya sadar betul hubungan kita sudah sangatlah dekat. Memang sangatlah sulit untuk mencari jalan yang terbaik dengan begitu banyak rintangan dan perbedaan diantara kita. Selama ini saya sudah mencoba untuk bisa mengimbangi bapak, tapi ternyata itu belumlah cukup membuktikan keseriusan saya ke bapak. Terlalu banyak ketidakpercayaan diantara kita.
Satu hal yang perlu bapak tau, SAYA PINGIN BISA MANDIRI. Itu saja. Selama ini saya selalu bergantung sama bapak. Apa yang saya lakukan dan putuskan semua bergantung dari bapak. Apa yang saya terima dan saya dapat semua dari bapak. Karena bapak kasihan dan merasa harus bertanggung jawab atas diri saya kan ?. Saya dekat dengan bapak dan saya juga karyawan bapak. Tapi saya tak pernah bisa jadi diri saya sendiri. Bahkan ketika saya ingin melakukan hal untuk keluarga saya itupun harus atas ijin dan persetujuan bapak. Sepertinya saya nggak punya hak untuk melakukan dan memutuskan apapun. Saya tau sekali bapak sayang sekali sama saya dan keluarga saya. Bapak ingin memberikan yang terbaik buat saya sekeluarga. Saya sangat berterima kasih dan tidak akan lupakan hal itu.
Kalau kebersamaan kita dan tuntutan saya justru malah menambah sakit dan beban buat bapak, lupakan saja hal itu. Saya tidak akan lagi menuntut hal itu apalagi tuntutan materi dan harta. Apapun yang sudah dan pernah terjadi diantara kita itu bukan karena keterpaksaan tapi karena saya memang suka dan ikhlas. Dan itu akan menjadi kenangan indah dan manis buat saya. Jadi bukan karena tuntutan materi ataupun harta. Seandainyapun kebersamaan kita hanya cukup sampai enam tahun saja semoga dikemudian hari tidak ada dendam dan permusuhan diantara kita. Tapi yang ada hanya persaudaran dan tali silaturakhim yang baik diantara kita.
Salam Sayang
Ella
Dari surat itu bos Ella trus berusaha mencari tau siapa laki-laki yang telah merubah Ella. Bos Ella pun sempat tanya aku tau tidak siapa pacar Ella. Setiap kali ada kesempatan bos Ella selalu mengajak Ella untuk keluar kota untuk alasan kerjaan. Itu nggak pernah dilakukan hampir dua tahun terakhir tapi kini sering setelah Ella menulis surat itu. Singkat cerita akhirnya Ella bilang pada bosnya kalo akulah pacarnya.
“La ............ aku nggak pa pa kok kalo kamu memang suka dengan pria lain”, kata bosnya.
“Bapak cuma nggak mau kamu buat mainan laki-laki”, tambah bosnya
“Pak ....... bolehkan kalo laki-laki itu mas Hendra”, tanya Ella pada bosnya.
Dengan sedikit kaget bosnya menjawab,”Oh……….bapak setuju, bapak kenal hendra dia anak baik”.
“Tolong ….. hendra suruh kesini dan bilang sama bapak”, tambah bosnya.
”Karena bapak pingin tau keseriusan dia sama kamu”, kata bosnya lagi.
Dengan Ella menceritakan semua itu bosnya mulai ada rasa nggak suka dengan aku. Tidak seperti dulu tiap kali aku di telpon suruh ke kantornya ya hanya sekedar ngobrol, sekarang nggak pernah lagi.
Ella pun menyampaikan padaku apa keinginan bosnya untuk ketemu aku. Aku jawab buat apa aku ketemu bosmu, kalo ketemu orang tuamu aku mau.
”Aku laki-laki la ....tolong hargai aku, masak aku harus bilang ke bosmu kalo aku suka kamu”, jawabku.
”Mas ini untuk kebaikan hubungan kita”, jelas Ella.
”Baik apanya? …….. kamu sudah menjatuhkan harga diri aku”.
“Kalo selama ini ……. Hubungan kamu dan bosmu sebatas atasan dan bawahan, ok aku akan bilang ke bosmu…….tapi”, penjelasanku ke Ella.
“Mas ……. Bapak cuma ingin aku nggak buat mainan laki-laki”, tambah Ella.
“Oh jadi selama 6 tahun kamu nggak sadar juga udah buat mainan laki-laki”, jawabku dengan emosi.
“Apa jangan-jangan bukan laki-laki karena nggak berani tanggung jawab”, tambahku lagi.
”Kamu minta nikahi karena cinta kamu sama dia malah dibilang cinta lonte”, Omelanku biar Ella sadar.
Aku juga tau kalo Ella nggak bisa melupakan begitu aja jasa bosnya selama ini. Dan akhirnya dari semua itu semua handphone Ella di sita oleh bosnya. Komunikasi dengan Ella pun terputus, doktrin yang kuat dari bosnya membuat Ella takut.
Sampai aku tulis cerita ini hubunganku dengan Ella nggak jelas. Untuk bisa ketemu sudah tidak mungkin karena bosnya punya sudah mendokrin keluarga Ella dan orang-orang disekitar Ella, jelek sekali namaku dikeluarga Ella dan banyak temen-temenku.
Cinta Ella yang membuat aku menjadi orang bodoh, orang yang hilang, orang yang tidak tahu malu. Tapi cinta Ella bikin aku menjadi orang dewasa yang menerima perbedaan untuk memandang hidup kedepan.
Dengan belajar menulis jujur di blog ini aku semoga Ella sendiri membaca dan tau tujuanku sebenarnya yang sampai sekarang pun belum aku sampaikan ke Ella.
Aku masih sayang kamu La..............................terserah kamu menilai aku.
Cinta itu tidak bisa dipaksakan itu benar, cinta yang didasari kasihan dari salah satu tidak akan berbentuk cinta sejati, bila yang lain merasa tidak perlu dikasihani.
Para pembaca ini betul true story, sebetulnya ini episode terakhir yang aku paksakan untuk selesai biar nggak pada bosen.
Terimakasih buat blogger.com yang udah memberi tempat aku menulis, edittag/onokarsono/q4midz yang mengenalkan aku dengan blog. Juga nggak lupa buat semua pembaca dengan komentar-komentarnya yang tidak bisa disebutin satu-satu.
T A M A T
Setelah hampir satu bulan aku dan Ella pacaran, akhirnya Ella memberanikan diri untuk menulis surat ke bosnya, isi surat itu :
Apa sebenarnya semua ini karena bapak kecewa dengan sikap saya akhir-akhir ini yang mungkin menurut bapak terlalu berani dan melawan bapak ? Selama ini bapak banyak mengajarkan saya untuk bisa bersikap tegas dan berani sepanjang kita yakin hal itu benar. Ketika saya mulai bisa membangun keberanian dan ketegasan sikap untuk diriku sendiri, malah jadi dianggap melawan bapak. Mungkin saya memang baru bisa membela diri saya sendiri. Sepanjang enam tahun kebersamaan kita mungkin saya memang sudah terlalu banyak menuntut sama bapak. Dan terakhir saya menuntut untuk bapak menikahi saya. Tapi beberapa hari yang lalu bapak marah besar atas permintaanku itu. Itu bukan cinta murni tapi lebih tepat dianggap cinta lonte. Itu pendapat bapak saat itu. Sakit hati sekali waktu aku mendengar hal itu. Tapi aku harus sadar kondisi bapak sedang emosi saat itu. Lebih baik saya diam kan ? Aku tak berani menyinggung hal itu lagi. Saya tau itu menyinggung perasaan bapak. Saya tau itu keputusan yang sulit buat bapak. Dan bapak juga harus tau bahwa hal itu juga sulit untuk bisa aku terima. Ternyata pendapat kita tentang cinta dan pernikahan berbeda jauh. Walau saya sadar betul hubungan kita sudah sangatlah dekat. Memang sangatlah sulit untuk mencari jalan yang terbaik dengan begitu banyak rintangan dan perbedaan diantara kita. Selama ini saya sudah mencoba untuk bisa mengimbangi bapak, tapi ternyata itu belumlah cukup membuktikan keseriusan saya ke bapak. Terlalu banyak ketidakpercayaan diantara kita.
Satu hal yang perlu bapak tau, SAYA PINGIN BISA MANDIRI. Itu saja. Selama ini saya selalu bergantung sama bapak. Apa yang saya lakukan dan putuskan semua bergantung dari bapak. Apa yang saya terima dan saya dapat semua dari bapak. Karena bapak kasihan dan merasa harus bertanggung jawab atas diri saya kan ?. Saya dekat dengan bapak dan saya juga karyawan bapak. Tapi saya tak pernah bisa jadi diri saya sendiri. Bahkan ketika saya ingin melakukan hal untuk keluarga saya itupun harus atas ijin dan persetujuan bapak. Sepertinya saya nggak punya hak untuk melakukan dan memutuskan apapun. Saya tau sekali bapak sayang sekali sama saya dan keluarga saya. Bapak ingin memberikan yang terbaik buat saya sekeluarga. Saya sangat berterima kasih dan tidak akan lupakan hal itu.
Kalau kebersamaan kita dan tuntutan saya justru malah menambah sakit dan beban buat bapak, lupakan saja hal itu. Saya tidak akan lagi menuntut hal itu apalagi tuntutan materi dan harta. Apapun yang sudah dan pernah terjadi diantara kita itu bukan karena keterpaksaan tapi karena saya memang suka dan ikhlas. Dan itu akan menjadi kenangan indah dan manis buat saya. Jadi bukan karena tuntutan materi ataupun harta. Seandainyapun kebersamaan kita hanya cukup sampai enam tahun saja semoga dikemudian hari tidak ada dendam dan permusuhan diantara kita. Tapi yang ada hanya persaudaran dan tali silaturakhim yang baik diantara kita.
Salam Sayang
Ella
Dari surat itu bos Ella trus berusaha mencari tau siapa laki-laki yang telah merubah Ella. Bos Ella pun sempat tanya aku tau tidak siapa pacar Ella. Setiap kali ada kesempatan bos Ella selalu mengajak Ella untuk keluar kota untuk alasan kerjaan. Itu nggak pernah dilakukan hampir dua tahun terakhir tapi kini sering setelah Ella menulis surat itu. Singkat cerita akhirnya Ella bilang pada bosnya kalo akulah pacarnya.
“La ............ aku nggak pa pa kok kalo kamu memang suka dengan pria lain”, kata bosnya.
“Bapak cuma nggak mau kamu buat mainan laki-laki”, tambah bosnya
“Pak ....... bolehkan kalo laki-laki itu mas Hendra”, tanya Ella pada bosnya.
Dengan sedikit kaget bosnya menjawab,”Oh……….bapak setuju, bapak kenal hendra dia anak baik”.
“Tolong ….. hendra suruh kesini dan bilang sama bapak”, tambah bosnya.
”Karena bapak pingin tau keseriusan dia sama kamu”, kata bosnya lagi.
Dengan Ella menceritakan semua itu bosnya mulai ada rasa nggak suka dengan aku. Tidak seperti dulu tiap kali aku di telpon suruh ke kantornya ya hanya sekedar ngobrol, sekarang nggak pernah lagi.
Ella pun menyampaikan padaku apa keinginan bosnya untuk ketemu aku. Aku jawab buat apa aku ketemu bosmu, kalo ketemu orang tuamu aku mau.
”Aku laki-laki la ....tolong hargai aku, masak aku harus bilang ke bosmu kalo aku suka kamu”, jawabku.
”Mas ini untuk kebaikan hubungan kita”, jelas Ella.
”Baik apanya? …….. kamu sudah menjatuhkan harga diri aku”.
“Kalo selama ini ……. Hubungan kamu dan bosmu sebatas atasan dan bawahan, ok aku akan bilang ke bosmu…….tapi”, penjelasanku ke Ella.
“Mas ……. Bapak cuma ingin aku nggak buat mainan laki-laki”, tambah Ella.
“Oh jadi selama 6 tahun kamu nggak sadar juga udah buat mainan laki-laki”, jawabku dengan emosi.
“Apa jangan-jangan bukan laki-laki karena nggak berani tanggung jawab”, tambahku lagi.
”Kamu minta nikahi karena cinta kamu sama dia malah dibilang cinta lonte”, Omelanku biar Ella sadar.
Aku juga tau kalo Ella nggak bisa melupakan begitu aja jasa bosnya selama ini. Dan akhirnya dari semua itu semua handphone Ella di sita oleh bosnya. Komunikasi dengan Ella pun terputus, doktrin yang kuat dari bosnya membuat Ella takut.
Sampai aku tulis cerita ini hubunganku dengan Ella nggak jelas. Untuk bisa ketemu sudah tidak mungkin karena bosnya punya sudah mendokrin keluarga Ella dan orang-orang disekitar Ella, jelek sekali namaku dikeluarga Ella dan banyak temen-temenku.
Cinta Ella yang membuat aku menjadi orang bodoh, orang yang hilang, orang yang tidak tahu malu. Tapi cinta Ella bikin aku menjadi orang dewasa yang menerima perbedaan untuk memandang hidup kedepan.
Dengan belajar menulis jujur di blog ini aku semoga Ella sendiri membaca dan tau tujuanku sebenarnya yang sampai sekarang pun belum aku sampaikan ke Ella.
Aku masih sayang kamu La..............................terserah kamu menilai aku.
Cinta itu tidak bisa dipaksakan itu benar, cinta yang didasari kasihan dari salah satu tidak akan berbentuk cinta sejati, bila yang lain merasa tidak perlu dikasihani.
Para pembaca ini betul true story, sebetulnya ini episode terakhir yang aku paksakan untuk selesai biar nggak pada bosen.
Terimakasih buat blogger.com yang udah memberi tempat aku menulis, edittag/onokarsono/q4midz yang mengenalkan aku dengan blog. Juga nggak lupa buat semua pembaca dengan komentar-komentarnya yang tidak bisa disebutin satu-satu.
T A M A T
Sabtu, 09 Februari 2008
Aku dan Ella ( bagian 4 )
Malam harinya aku telpon Ella, karena aku cemas banget dengan kejadian hari ini.
tuut...tut.........tut. suara dari telpon Ella yang tandanya sedang tidak aktif. Rasa penasaran kenapa hp Ella tidak aktif, aku coba juga hubungi no hp Ella yang lain. Tapi semua tidak aktif. Aku mulai merasa ada sesuatu yang terjadi pada Ella, mungkin dia sedang pergi dengan bosnya.
Akhirnya aku ketiduran di depan tv setelah berkali-kali aku coba untuk telpon dan tetep juga tidak pernah aktif hpnya. Aku tinggalkan pesan singkat ke hp Ella, La nanti telpon akunya jam berapapun aku tunggu.
Tiba-tiba handphoneku berdering, aku pun terbangun . sambil berjalan mendekati hpku yang aku taruh di meja kamarku, aku melihat ke jam dinding kamarku. Aku lihat jam 3.25 WIB , hampir subuh. Rupanya Ella telpon aku, "Hallo......", jawabku.
"Assalamualaikum .........mas", salam Ella dari hpnya
"Walaikumsalam", jawabku lagi.
"Maaf mas tadi hp aku matiin semua karena...........", Ella menjelaskan.
Langsung aku potong penjelasannya,"Kamu pergi dengan bapak kan?".
"Katanya mas tidak akan marah dan bisa menerima?", Ella minta aku mengerti.
"Oh iya .......... tapi kamu kan janji akan berusaha menolak kalo di ajak keluar yang tidak ada kaitannya dengan pekerjaan", jawabku.
"Mas aku masih belum bisa menolak permintaan bapak", kata Ella.
"Apa sebabnya kok nggak bisa, kasih aku alasan", aku mulai emosi dengan sikap yang labil dari Ella.
"Kenapa sih mas kok selalu nggak bisa sabar, denger aku dulu dong", Ella menjawab dengan nada keras.
"Udah kita ketemu besok, aku capek mas mau tidur", jawab Ella dan menutup telponnya.
"La......la.........jangan di tutup dul...", ucapanku terhenti karena hp Ella udah terputus.
Aku pun nggak tidur sampai pagi, sambil membayangkan apa yang dilakukan ella semalam dan merasa bersalah juga karena terlalu cepat aku emosi. Harusnya aku mencoba sabar untuk bisa mendengar penjelasan Ella. Rasa cemburu yang besar membuat aku kehilangan kontrol untuk bisa menjaga hati Ella. Wajar kalo laki-laki cemburu itu yang ada dalam pikiranku, tapi apa ini yang namanya cinta. Cinta yang berawal dari rasa kasihan apa bisa bertahan lama?
Jam setengah delapan biasanya Ella sudah siap-siap berangkat ke kantornya, yang jaraknya nggak jauh dari rumahnya kira-kira 1 km. Aku pun telpon Ella, aku ambil handphone ku dan aku cari namanya di buku alamat hpku. Terdengar nada sambung lagu dari band Ungu. ………Sesungguhnya manusia takan bisa…….
………Menikmati surga…….
………Tanpa Iklas dihatinya……..
“Hallo………”, terdengar suara Ella begitu nada sambung berhenti.
"Assalamualaikum………La”, salamku buat Ella
"Walaikumsalam…………..mas", jawab Ella.
“Kok ….suaramu kayak bangun tidur, apa kamu sakit?’, tanyaku.
“Aku capek mas, mungkin aku nanti ijin untuk agak siang masuk kantornya”, jawab Ella.
“Aku nggak bisa tidur mas”,
“Rasanya aku bersalah sama bapak dan mas hendra”,
“Tunggu …….. maksudmu apa ?”, tanyaku.
“Aku nggak bisa ngomong kalo di telpon mas”, jawab Ella.
“Sore nanti aku mampir kantormu deh pulang dari lapangan”, Kataku
“Iya mas ati-ati ……..ya”, pesan Ella.
“Terima kasih………..Assalamualaikum………La”, kata ku.
“Walaikumsalam…………..mas", jawab Ella.
Telponpun aku tutup, dan aku bersiap berangkat untuk kerja.
Biasa tunggu lanjutannya..............
tuut...tut.........tut. suara dari telpon Ella yang tandanya sedang tidak aktif. Rasa penasaran kenapa hp Ella tidak aktif, aku coba juga hubungi no hp Ella yang lain. Tapi semua tidak aktif. Aku mulai merasa ada sesuatu yang terjadi pada Ella, mungkin dia sedang pergi dengan bosnya.
Akhirnya aku ketiduran di depan tv setelah berkali-kali aku coba untuk telpon dan tetep juga tidak pernah aktif hpnya. Aku tinggalkan pesan singkat ke hp Ella, La nanti telpon akunya jam berapapun aku tunggu.
Tiba-tiba handphoneku berdering, aku pun terbangun . sambil berjalan mendekati hpku yang aku taruh di meja kamarku, aku melihat ke jam dinding kamarku. Aku lihat jam 3.25 WIB , hampir subuh. Rupanya Ella telpon aku, "Hallo......", jawabku.
"Assalamualaikum .........mas", salam Ella dari hpnya
"Walaikumsalam", jawabku lagi.
"Maaf mas tadi hp aku matiin semua karena...........", Ella menjelaskan.
Langsung aku potong penjelasannya,"Kamu pergi dengan bapak kan?".
"Katanya mas tidak akan marah dan bisa menerima?", Ella minta aku mengerti.
"Oh iya .......... tapi kamu kan janji akan berusaha menolak kalo di ajak keluar yang tidak ada kaitannya dengan pekerjaan", jawabku.
"Mas aku masih belum bisa menolak permintaan bapak", kata Ella.
"Apa sebabnya kok nggak bisa, kasih aku alasan", aku mulai emosi dengan sikap yang labil dari Ella.
"Kenapa sih mas kok selalu nggak bisa sabar, denger aku dulu dong", Ella menjawab dengan nada keras.
"Udah kita ketemu besok, aku capek mas mau tidur", jawab Ella dan menutup telponnya.
"La......la.........jangan di tutup dul...", ucapanku terhenti karena hp Ella udah terputus.
Aku pun nggak tidur sampai pagi, sambil membayangkan apa yang dilakukan ella semalam dan merasa bersalah juga karena terlalu cepat aku emosi. Harusnya aku mencoba sabar untuk bisa mendengar penjelasan Ella. Rasa cemburu yang besar membuat aku kehilangan kontrol untuk bisa menjaga hati Ella. Wajar kalo laki-laki cemburu itu yang ada dalam pikiranku, tapi apa ini yang namanya cinta. Cinta yang berawal dari rasa kasihan apa bisa bertahan lama?
Jam setengah delapan biasanya Ella sudah siap-siap berangkat ke kantornya, yang jaraknya nggak jauh dari rumahnya kira-kira 1 km. Aku pun telpon Ella, aku ambil handphone ku dan aku cari namanya di buku alamat hpku. Terdengar nada sambung lagu dari band Ungu. ………Sesungguhnya manusia takan bisa…….
………Menikmati surga…….
………Tanpa Iklas dihatinya……..
“Hallo………”, terdengar suara Ella begitu nada sambung berhenti.
"Assalamualaikum………La”, salamku buat Ella
"Walaikumsalam…………..mas", jawab Ella.
“Kok ….suaramu kayak bangun tidur, apa kamu sakit?’, tanyaku.
“Aku capek mas, mungkin aku nanti ijin untuk agak siang masuk kantornya”, jawab Ella.
“Aku nggak bisa tidur mas”,
“Rasanya aku bersalah sama bapak dan mas hendra”,
“Tunggu …….. maksudmu apa ?”, tanyaku.
“Aku nggak bisa ngomong kalo di telpon mas”, jawab Ella.
“Sore nanti aku mampir kantormu deh pulang dari lapangan”, Kataku
“Iya mas ati-ati ……..ya”, pesan Ella.
“Terima kasih………..Assalamualaikum………La”, kata ku.
“Walaikumsalam…………..mas", jawab Ella.
Telponpun aku tutup, dan aku bersiap berangkat untuk kerja.
Biasa tunggu lanjutannya..............
Sabtu, 02 Februari 2008
Aku dan Ella ( bagian 3 )
Sering rasa cemburu membakar aku, begitu lihat Ella sedang berdua dengan bosnya. Dalam hati aku bilang,"hendra kamu cuma ingin menyelamatkan Ella jangan sia-sia kan perjuanganmu". Trus aku merasa ini bukan lagi kasihan tapi sudah tumbuh rasa suka, karena aku bisa cemburu. Rasa suka yang di dasari dari rasa kasihan apa akan bertahan lama? Itu jadi pertanyaan dalam hatiku, apa aku akan selalu mengalah.
Aku jadi sering bertandang ke kantor Ella, karena aku juga nggak mau ketinggalan sedikitpun perkembangan dari hubungan Ella dan bosnya. Senin pagi aku ke kantor Ella, dan seperti biasa aku langsung masuk ke ruangan rekanku ( bos Ella ) yang satu ruangan dengan Ella.
"Pagi...bos", sapaku ke bos Ella.
"hai ndra, ada kabar apa nih?" sambut bos Ella.
"Biasa kan main, saya yang mau tanya ada berita apa pak", tanyaku balik. Mataku nggak lepas melihat Ella yang pagi itu begitu seger banget. Ella sedang sibuk dengan kerjaan yang kelihatan menumpuk di depannya. Kadang tampak dia curi pandang ke aku, dan mungkin takut ketauan si bos.
Begitu dekatnya aku dengan bos Ella kadang aku merasa seperti anak sendiri, karena umur bos Ella sama dengan umur Alm bapakku. Bos Ella pun menganggap aku seperti anaknya. Kadang sering dia cerita tentang semua masalahnya baik masalah keluarga maupun cerita tentang Ella.
"kamu ngerti nggak kalo mbak Ella punya pacar baru?" kata bos Ella. Ella selalu di panggil mbak Ella oleh bos nya di depan siapapun. Aku pun panggil mbak Ella kalo dikantornya. Aku sempet kaget bos Ella langsung bilang begitu sama aku. Apa Ella udah cerita, pikirku.
"Jangan di dengerin mas, bapak ngawur", suara Ella.
Oh berarti si bos hanya menduga-duga saja karena Ella bilang begitu.
"Apa iya pak?" tanyaku balik seolah-olah tidak tahu.
"Iya namanya Lik Amad", jelas bos Ella
"Apa iya mbak?".
"Lik Amad siapa?",tanyaku ke Ella. Sambil aku lihat raut wajah Ella yang mulai kikuk aku pandangi.
"Bapak lagi ngawur mas".
"masak cuma sms yang nyasar trus nuduh aku kaya gitu", jelas Ella.
"Tapi bener ndra kalo nyasar masak pake sayang-sayang", bosnya dengan tersenyum sambil menyanyi lagu dari MATTA Band.
O.....o...kamu ketauan pacaran lagi
Dengan Lik Amad........... dengan senyum-senyum.
Dengan senyum aku liat wajah Ella yang mulai memerah, karena malu.
“Gimana ndra apa kamu tau?”, tanya bos Ella.
“Aduh nggak tau pak, mungkin orang itu belum kenal siapa bapak”, jawabku.
Antara merasa bersalah dan bangga, bersalah karena bos Ella sangat baik sama aku. Aku juga bangga karena Ella tidak cerita pada bosnya sedang dekat dengan aku. Berarti keraguan dari keseriusan Ella ingin lepas dari bosnya terjawab.
”mbak Ella aku sih nggak keberatan kalo kamu memang suka dengan orang lain, tapi tolong kenalin ke saya”, jelas bosnya.
”Nggak mungkin ya pak, masa mau dikenalin”, jawabku spontan.
”Aku kan cuma pingin suami mbak Ella nanti pria yang bertanggung jawab”, kata bos Ella.
”Apa sekarang suaminya kurang tanggung jawab?”, tanyaku sambil senyum kearah Ella.
Ella melihat aku dengan pandangaan kurang berkenan.
”Mungkin udah tua ndra, jadi mau cari yang lebih muda”, kata bos Ella sambil tertawa kecil.
”Bapak kok tambah ngawur sih!!”, Jawab Ella sedikit emosi.
Sambil mendekat kearah Ella si bos ketawa dan berkata,”begitu aja marah”.
”Bapak sih guyonnya kelewatan!!”, kata Ella.
”Tapi benerkan nggak ada Lik Amad”, jelas Bos Ella.
Perasaan tidak bisa bohong, bos Ella pun tau kalo Ella suka dengan pria lain, cuma dia tidak tau siapa pria itu.
Akhirnya kami ngobrol masalah pekerjaan sampai tengah hari, aku pun pamit pulang.
”Pak, aku pulang dulu ya?”, pamitku.
“Ok......deh nanti kalo ada kabar tolong saya di beritahu ya, telpon aja ke saya atau mbak Ella”, jawab bos Ella.
”Iya.....pak, pasti”.
”Aku pamit dulu mbak Ella”, kataku, sambil aku jabat tangan Ella.
”Ati-ati mas”, jawab Ella dengan tersenyum.
”Assalamu’allaikum”, aku ucapakan salam, sambil keluar dari ruangan kantor.
”Wallaikumsalam”, jawab Ella dan bosnya.
Aku belum bisa membayangkan kalo bos Ella tau bahwa pria idaman lain Ella adalah aku. Itu tidak pernah aku pikirkan, yang aku pikirkan cuma aku ingin Ella bisa mewujudkan harapannya kembali.
Bersambung........................................
Aku jadi sering bertandang ke kantor Ella, karena aku juga nggak mau ketinggalan sedikitpun perkembangan dari hubungan Ella dan bosnya. Senin pagi aku ke kantor Ella, dan seperti biasa aku langsung masuk ke ruangan rekanku ( bos Ella ) yang satu ruangan dengan Ella.
"Pagi...bos", sapaku ke bos Ella.
"hai ndra, ada kabar apa nih?" sambut bos Ella.
"Biasa kan main, saya yang mau tanya ada berita apa pak", tanyaku balik. Mataku nggak lepas melihat Ella yang pagi itu begitu seger banget. Ella sedang sibuk dengan kerjaan yang kelihatan menumpuk di depannya. Kadang tampak dia curi pandang ke aku, dan mungkin takut ketauan si bos.
Begitu dekatnya aku dengan bos Ella kadang aku merasa seperti anak sendiri, karena umur bos Ella sama dengan umur Alm bapakku. Bos Ella pun menganggap aku seperti anaknya. Kadang sering dia cerita tentang semua masalahnya baik masalah keluarga maupun cerita tentang Ella.
"kamu ngerti nggak kalo mbak Ella punya pacar baru?" kata bos Ella. Ella selalu di panggil mbak Ella oleh bos nya di depan siapapun. Aku pun panggil mbak Ella kalo dikantornya. Aku sempet kaget bos Ella langsung bilang begitu sama aku. Apa Ella udah cerita, pikirku.
"Jangan di dengerin mas, bapak ngawur", suara Ella.
Oh berarti si bos hanya menduga-duga saja karena Ella bilang begitu.
"Apa iya pak?" tanyaku balik seolah-olah tidak tahu.
"Iya namanya Lik Amad", jelas bos Ella
"Apa iya mbak?".
"Lik Amad siapa?",tanyaku ke Ella. Sambil aku lihat raut wajah Ella yang mulai kikuk aku pandangi.
"Bapak lagi ngawur mas".
"masak cuma sms yang nyasar trus nuduh aku kaya gitu", jelas Ella.
"Tapi bener ndra kalo nyasar masak pake sayang-sayang", bosnya dengan tersenyum sambil menyanyi lagu dari MATTA Band.
O.....o...kamu ketauan pacaran lagi
Dengan Lik Amad........... dengan senyum-senyum.
Dengan senyum aku liat wajah Ella yang mulai memerah, karena malu.
“Gimana ndra apa kamu tau?”, tanya bos Ella.
“Aduh nggak tau pak, mungkin orang itu belum kenal siapa bapak”, jawabku.
Antara merasa bersalah dan bangga, bersalah karena bos Ella sangat baik sama aku. Aku juga bangga karena Ella tidak cerita pada bosnya sedang dekat dengan aku. Berarti keraguan dari keseriusan Ella ingin lepas dari bosnya terjawab.
”mbak Ella aku sih nggak keberatan kalo kamu memang suka dengan orang lain, tapi tolong kenalin ke saya”, jelas bosnya.
”Nggak mungkin ya pak, masa mau dikenalin”, jawabku spontan.
”Aku kan cuma pingin suami mbak Ella nanti pria yang bertanggung jawab”, kata bos Ella.
”Apa sekarang suaminya kurang tanggung jawab?”, tanyaku sambil senyum kearah Ella.
Ella melihat aku dengan pandangaan kurang berkenan.
”Mungkin udah tua ndra, jadi mau cari yang lebih muda”, kata bos Ella sambil tertawa kecil.
”Bapak kok tambah ngawur sih!!”, Jawab Ella sedikit emosi.
Sambil mendekat kearah Ella si bos ketawa dan berkata,”begitu aja marah”.
”Bapak sih guyonnya kelewatan!!”, kata Ella.
”Tapi benerkan nggak ada Lik Amad”, jelas Bos Ella.
Perasaan tidak bisa bohong, bos Ella pun tau kalo Ella suka dengan pria lain, cuma dia tidak tau siapa pria itu.
Akhirnya kami ngobrol masalah pekerjaan sampai tengah hari, aku pun pamit pulang.
”Pak, aku pulang dulu ya?”, pamitku.
“Ok......deh nanti kalo ada kabar tolong saya di beritahu ya, telpon aja ke saya atau mbak Ella”, jawab bos Ella.
”Iya.....pak, pasti”.
”Aku pamit dulu mbak Ella”, kataku, sambil aku jabat tangan Ella.
”Ati-ati mas”, jawab Ella dengan tersenyum.
”Assalamu’allaikum”, aku ucapakan salam, sambil keluar dari ruangan kantor.
”Wallaikumsalam”, jawab Ella dan bosnya.
Aku belum bisa membayangkan kalo bos Ella tau bahwa pria idaman lain Ella adalah aku. Itu tidak pernah aku pikirkan, yang aku pikirkan cuma aku ingin Ella bisa mewujudkan harapannya kembali.
Bersambung........................................
Langganan:
Komentar (Atom)