Laman

Minggu, 21 Desember 2014

AKU DAN ELLA ( bagian terakhir )

Akhirnya apa yang aku pikirkan terbukti, bahwa bos Ella tidak akan rela melepaskan dan merelakan Ella dengan laki-laki lain. Perjalanan saving Ella pun harus berhenti karena sikap Ella sendiri yang tidak pernah tegas untuk memilih aku apa bosnya.
Setelah hampir satu bulan aku dan Ella pacaran, akhirnya Ella memberanikan diri untuk menulis surat ke bosnya, isi surat itu :

Apa sebenarnya semua ini karena bapak kecewa dengan sikap saya akhir-akhir ini yang mungkin menurut bapak terlalu berani dan melawan bapak ? Selama ini bapak banyak mengajarkan saya untuk bisa bersikap tegas dan berani sepanjang kita yakin hal itu benar. Ketika saya mulai bisa membangun keberanian dan ketegasan sikap untuk diriku sendiri, malah jadi dianggap melawan bapak. Mungkin saya memang baru bisa membela diri saya sendiri. Sepanjang enam tahun kebersamaan kita mungkin saya memang sudah terlalu banyak menuntut sama bapak. Dan terakhir saya menuntut untuk bapak menikahi saya. Tapi beberapa hari yang lalu bapak marah besar atas permintaanku itu. Itu bukan cinta murni tapi lebih tepat dianggap cinta lonte. Itu pendapat bapak saat itu. Sakit hati sekali waktu aku mendengar hal itu. Tapi aku harus sadar kondisi bapak sedang emosi saat itu. Lebih baik saya diam kan ? Aku tak berani menyinggung hal itu lagi. Saya tau itu menyinggung perasaan bapak. Saya tau itu keputusan yang sulit buat bapak. Dan bapak juga harus tau bahwa hal itu juga sulit untuk bisa aku terima. Ternyata pendapat kita tentang cinta dan pernikahan berbeda jauh. Walau saya sadar betul hubungan kita sudah sangatlah dekat. Memang sangatlah sulit untuk mencari jalan yang terbaik dengan begitu banyak rintangan dan perbedaan diantara kita. Selama ini saya sudah mencoba untuk bisa mengimbangi bapak, tapi ternyata itu belumlah cukup membuktikan keseriusan saya ke bapak. Terlalu banyak ketidakpercayaan diantara kita.

Satu hal yang perlu bapak tau, SAYA PINGIN BISA MANDIRI. Itu saja. Selama ini saya selalu bergantung sama bapak. Apa yang saya lakukan dan putuskan semua bergantung dari bapak. Apa yang saya terima dan saya dapat semua dari bapak. Karena bapak kasihan dan merasa harus bertanggung jawab atas diri saya kan ?. Saya dekat dengan bapak dan saya juga karyawan bapak. Tapi saya tak pernah bisa jadi diri saya sendiri. Bahkan ketika saya ingin melakukan hal untuk keluarga saya itupun harus atas ijin dan persetujuan bapak. Sepertinya saya nggak punya hak untuk melakukan dan memutuskan apapun. Saya tau sekali bapak sayang sekali sama saya dan keluarga saya. Bapak ingin memberikan yang terbaik buat saya sekeluarga. Saya sangat berterima kasih dan tidak akan lupakan hal itu.

Kalau kebersamaan kita dan tuntutan saya justru malah menambah sakit dan beban buat bapak, lupakan saja hal itu. Saya tidak akan lagi menuntut hal itu apalagi tuntutan materi dan harta. Apapun yang sudah dan pernah terjadi diantara kita itu bukan karena keterpaksaan tapi karena saya memang suka dan ikhlas. Dan itu akan menjadi kenangan indah dan manis buat saya. Jadi bukan karena tuntutan materi ataupun harta. Seandainyapun kebersamaan kita hanya cukup sampai enam tahun saja semoga dikemudian hari tidak ada dendam dan permusuhan diantara kita. Tapi yang ada hanya persaudaran dan tali silaturakhim yang baik diantara kita.

                                                                                                                      Salam Sayang
                                                                                                                                Ella



Dari surat itu bos Ella trus berusaha mencari tau siapa laki-laki yang telah merubah Ella. Bos Ella pun sempat tanya aku tau tidak siapa pacar Ella. Setiap kali ada kesempatan bos Ella selalu mengajak Ella untuk keluar kota untuk alasan kerjaan. Itu nggak pernah dilakukan hampir dua tahun terakhir tapi kini sering setelah Ella menulis surat itu. Singkat cerita akhirnya Ella bilang pada bosnya kalo akulah pacarnya.
“La ............ aku nggak pa pa kok kalo kamu memang suka dengan pria lain”, kata bosnya.
“Bapak cuma nggak mau kamu buat mainan laki-laki”, tambah bosnya
“Pak ....... Ella bolehnya kalo laki-laki itu mas Hendra”, tanya Ella pada bosnya.
Dengan sedikit kaget bosnya menjawab,”Oh……….bapak setuju, bapak kenal hendra dia anak baik”.
“Tolong ….. hendra suruh kesini dan bilang sama bapak”, tambah bosnya.
”Karena bapak pingin tau keseriusan dia sama kamu”, kata bosnya lagi.
Dengan Ella menceritakan semua itu bosnya mulai ada rasa nggak suka dengan aku. Tidak seperti dulu tiap kali aku di telpon suruh ke kantornya ya hanya sekedar ngobrol, sekarang nggak pernah lagi.

Ella pun menyampaikan padaku apa keinginan bosnya untuk ketemu aku. Aku jawab buat apa aku ketemu bosmu, kalo ketemu orang tuamu aku mau.
”Aku laki-laki la ....tolong hargai aku, masak aku harus bilang ke bosmu kalo aku suka kamu”, jawabku.
”Mas ini untuk kebaikan hubungan kita”, jelas Ella.
”Baik apanya? …….. kamu sudah menjatuhkan harga diri aku”.
“Kalo selama ini ……. Hubungan kamu dan bosmu sebatas atasan dan bawahan, ok aku akan bilang ke bosmu…….tapi”, penjelasanku ke Ella.
“Mas ……. Bapak cuma ingin aku nggak buat mainan laki-laki”, tambah Ella.
“Oh jadi selama 6 tahun kamu nggak sadar juga udah buat mainan laki-laki”, jawabku dengan emosi.
“Apa jangan-jangan bukan laki-laki karena nggak berani tanggung jawab”, tambahku lagi.
”Kamu minta nikahi karena cinta kamu sama dia malah dibilang cinta lonte”, Omelanku biar Ella sadar.
Aku juga tau kalo Ella nggak bisa melupakan begitu aja jasa bosnya selama ini. Dan akhirnya dari semua itu semua handphone Ella di sita oleh bosnya. Komunikasi dengan Ella pun terputus, doktrin yang kuat dari bosnya membuat Ella takut.

Sampai aku tulis cerita ini hubunganku dengan Ella nggak jelas. Untuk bisa ketemu sudah tidak mungkin karena bosnya punya sudah mendokrin keluarga Ella dan orang-orang disekitar Ella, jelek sekali namaku dikeluarga Ella dan banyak temen-temenku.

Cinta Ella yang membuat aku menjadi orang bodoh, orang yang hilang, orang yang tidak tahu malu. Tapi cinta Ella bikin aku menjadi orang dewasa yang menerima perbedaan untuk memandang hidup kedepan.

Dengan belajar menulis jujur di blog ini aku semoga Ella sendiri membaca dan tau tujuanku sebenarnya yang sampai sekarang pun belum aku sampaikan ke Ella.

Aku masih sayang kamu La..............................terserah kamu menilai aku.

Cinta itu tidak bisa dipaksakan itu benar, cinta yang didasari kasihan dari salah satu tidak akan berbentuk cinta sejati, bila yang lain merasa tidak perlu dikasihani.

Para pembaca ini betul true story, sebetulnya ini episode terakhir yang aku paksakan untuk selesai biar nggak pada bosen.

Terimakasih buat blogger.com yang udah memberi tempat aku menulis, edittag/onokarsono/q4midz yang mengenalkan aku dengan blog. Juga nggak lupa buat semua pembaca dengan komentar-komentarnya yang bisa disebutin satu-satu.

T A M A T

Jumat, 11 Juli 2014

PADA SUATU KETIKA

Pada saatnya semua sepi
Hanya jari-jari tangan yang mengepal, berkonsentrasi menyalahkan takdir. Rasa sakit yang luar biasa tanpa batas akhir. Rasa bahwa semua kesalahan itu bukan hanya datang tapi juga tidak pernah jauh pergi. Kalo dosa itu tidak enak pasti akan mudah meninggalkan semua dosa.
Kesalahan dan disalahkan selalu ada, coba mengais lagi puing-puing kepercayaan yang masih bisa. Menjauhkan diri dari riuhnya alam fana, bersujud syukur mumpung masih diberi waktu untuk mohon ampun. Keyakinan tidak cukup untuk semua...karena terlalu sakit menerima semua kenyataan. Membuka satu lembar lusuh untuk dihapus tidak mudah, karena perlu kain yang bersih pula. ”terkadang diam dan menahan diri adalah suatu jawaban dari suatu masalah”.
Pesanku hanya satu “Ketika kamu menyayangi seseorang tanpa sadar hati mu berharap penuh kepadanya”.....ingat itu.

Senin, 22 November 2010

Night in Jakarta part 2

Seperti cerita kemarin....ini masih ngobrol bareng Dicky. Memang pertama ketemu Dicky aku merasa kok ada kuli modelnya begini. Ganteng memang, bersih putih dengan badan proporsional.Di proyek teman2nya panggil dia bencong, gak salah memang karena perlengkapan kecantikannya lengkap.....hahahaha.
"Trus pertama kali dulu gimana?",tanyaku
Pertama kali gimana, mas? dicky balik tanya ke aku. Aduh ini anak dodol apa pilon masak harus aku jelaskan maksud aku....hah (dalam hati).
"Ya pertama kali kencan sama tante lah", jelasku.
Ya gimana mas, aku kan terpaksa karena kebutuhan...tadinya aku juga masih takut mas. wah campur rasanya, gak karuanlah. Untungnya tante Devi itu baik mas.
"Baik gimana?", tanyaku lagi.
Saya diajak keliling Jakarta pake mobilnya, dan kita ngobrol banyak sepanjang jalan. Aku kan tanya "kenapa sih kok begini?",ujar dicky. tante itu bilang karena kesepian aja. Trus tante Devi itu bilang kenapa aku kok gak kayak temen2ku yang lain. Aku jawab ini pertama kalinya aku menjalani profesi seperti ini.
Sampai mobil berhenti di sebuah Motel di kawasan Jakarta Timur, tepatnya pintu masuk Jakarta dari arah Timur......
.......maaf ada bagian yang tidak dapat diceritakan disini......bila penasaran bisa telpon aku.....hahahaha.
"Oke Dick, trus berapa tante yang jadi langananmu?", tanyaku penasaran.
Aku pilih2 orangnya mas, cuma dua tok. satunya tante siti, wanita priyayi jawa tulen. Sampai sekarang aku juga heran kenapa orang2 kayak mereka punya kelainan gitu ya mas?. Ha...ha...ha aku cuma bisa ketawa aja.
"Nah uangnya kamu apakan?", penasaran aku.
Duh mas, uang kayak gitu cepet abis. Tiap hari 3 kali aku minum vitamin makan juga gak bisa sembarangan, aku betul2 kayak ayam potong mas.
Tante Devi itu baik banget sama aku, kadang aku dibeliin baju, celana dan kebutuhan lain. Tante Devi paling lama sama aku mas, hampir 6 bulan dia jadi langganan aku. Dia yang sering kasih aku vitamin bentuk kapsul dan perhatian banget. Juga handphone terbaru pernah dibeliin untuk mempermudah ketemuan sama dia.
"Berapa kali seminggu sama dia?", tanyaku lagi.
Gak mesti, kadang seminggu 2 kali, pernah sampe 3 hari berturut-turut. Biasanya seminggu kemudian dia gak dateng.
"Kan biasanya servis itu ada berapa macem?", kataku
Wah gak tau mas, aku tanya di tempat apa dibooking istilahnya gitu.
"Hah....ditempat?", makin heran aku.
Di tempat itu di dalam mobil mas, bukan dipinggir jalan....hahahaha. Didaerah situ juga? tanyaku lagi. Iya kata dicky. "Apa nggak goyang2 itu mobil?", tanyaku lagi.
Hahahahaha....kan kita punya teknik tinggi, jawab dicky.
Dalam hati aku, anjrit nih anak teknik tinggi, kayak sekolahan aja. "Biasanya yang begitu tante yang gimana?", tambah penasan aku.
Itu mah tante yang udah kebelet aja mas, sebentar aja trus pergi lagi. "Kamu pernah?", tanyaku
Gak mas, itu biasanya temenku....dia langanannya banyak, tante2 yang kerja kantoran biasanya yang begitu mas. jadi pulang kerja mungkin stress mampir dulu....hahahaha.
"Sori nih kalo kayak istilah sekarang jablay, dimana tempatnya?",tanyaku.
Ada mas, apa perlu saya anter mas...kalo mas mau aku kenalin sama bosnya disana.
"Gak sapa tau nanti kalo ada temenku pengen",jawabku harus bisa ngeles....hahaha.
Di Jalan "M" itu tempatnya mas, tiap malem. Tapi kalo gak tau bisanya dapetnya kelas kambing mas. "Maksudnya kelas kambing apa?".
Ya kelas ecek2 gitu, udah tua atau udah barang lama....hahahahaha
"Kalo meraka beda lagi cara kerjanya ya?".
Mereka lebih terbuka mas, gak perlu guade. biasanya cuma tukang ojek aja.
Jadi kalo ada yang mau booking biasanya mereka dianter sama tukang ojek ke hotel tempat tamu nginap. Dan mereka gak mau naek mobil yang kita bawa...tetep dianter tukang ojek.

besok lagi ya udah ngantuk....

Night in Jakarta part 1

Layaknya kehidupan malam di kota Metropolitan di belahan dunia mana pun, tidak beda jauh dengan jakarta......walau belum pernah tapi di Indonesia terdapat beberapa kota besarnya hampir sama.
Berawal dari pertemuan aku dengan seseorang mantan gigolo di Kawasan Jakarta Selatan, sebut saja Dicky (25). Dia sudah lebih setahun berhenti dari pekerjaannya sebagai gigolo dan sekarang memilih menjadi kuli bangunan. Dan dari Dicky ini aku mendapat banyak cerita tentang kehidupan malam di pusatnya hiburan di Jakarta Selatan. Nama tempat yang sudah tidak asing di telinga banyak orang, sebuah kawasan belanja elite di Selatan Jakarta.
Cerita awal bisa terjun di dunia para pria pemuas napsu karena ajakan teman yang lebih dulu menekuni pekerjaan tersebut. "Mas untuk jadi gigolo tidak cukup modal tampang saja", kata dicky kepada saya. Pertama kali saya di modali teman untuk ke salon, beli baju dan asesoris sebagai tanda pengenal dan identitas diri ujar dicky.
Disana kita tidak bisa sendiri mas, ada koordinator masing-masing....sebut saja Cuil, dia koordinator saya. Jadi tugasnya koordinator ini memperkenalkan saya ke para tante yang memang betuh orang2 seperti saya, kata dicky sambil menyalakan rokoknya. Karena para "pembeli"(istilah para tante) ingin dijaga privasinya dan tidak ingin sembarangan, harus ada penjamin. Selain itu ada juga guade untuk para "pembeli" yang baru. Biasanya guade ini membawa plastik belanjaan dan berjalan bersama tante yang akan cari mahluk kayak kami ini. Guade ini kebanyakan perempuan paruh baya, dan banyak orang orang pasti gak akan menyangka kalo tugasnya memberi petunjuk kepada para tante, cowok mana yang berprofesi seperti saya ini.
"Tandanya apa?....kok bisa tau kamu itu gigolo....? tanyaku.
Disana itu ada beberapa kelompok mas, tapi dulu sebelum saya berhenti itu ada tanda khusus dan hanya sesama kita yang tahu. Biasanya pakaian yang digunakan warna hitam, baik kaos atau jas, dengan celana dan sepatu casual. Rapi dan wangi itu pasti, mas...tambah dicky. Tanda lain biasanya tergantung kelompoknya, ada yang sengaja mengulung sebelah lengan baju sebelah kiri dan sebelah kanan biasa. Ada juga yang membawa koran yang diguling atau membuka beberapa kancing baju bagian atas hingga terlihat dadanya. Itu dulu mas, saya nggak tau sekarang apa masih begitu.
"Nah biasanya nunggunya dimana kamu?," tanyaku lagi.
Kalo aku di luar Mall, mas...ya didepan toko-toko itu. Kami takut juga mas, kalo nanti ada razia atau yang lain.....hahahahaha, sambil tertawa.
"Maksudnya yang lain apa?", tanyaku penasaran.
Iya disanakan bukan cuma mahluk seperti kami yang cari makan, para "pecun" (perek cuma-cuma) juga banyak. Nanti salah2 malah dikira kita yang cari mangsa....hahahaha. Biasanya para "pembeli" nanti jalan melewati kami diantar sama guade untuk milih. Mereka seperti teman lama baru bertemu jadi banyak orang tidak tahu kalo itu guade dan pembeli yang sedang cari mangsa. Dan itu setiap malam, mas.
"Nah cara transaksinya gimana?".
Setelah si "pembeli" tau yang mana yang dipilih biasanya guade langsung memberi tahu koordinator kami. Dan dari koordinator nanti kami dikasih petunjuk nanti naik mobil apa warna apa?. Sampai sekarang saya gak kenal nama guade itu, kami cuma panggil tante aja. Mungkin orang kira jadi gigolo itu enak ya mas?....Semua salah mas, berat dengan resiko yang besar....bisa-bisa kita mati mas.
"Ah...masak?", tanyaku heran.
Iya mas, banyak yang harus kita rahasiakan baik dengan teman sendiri satu profesi apalagi sama orang diluar dunia kami. Saya tidak boleh cerita mengenai siapa tante yang menjadi langanan saya. Dulu pernah ada mas, yang sampe sekarang aku nggak tau lagi dimana anak itu. Dia dicari karena membocorkan rahasia kepada orang lain. "Nah kamu kok berani?," kataku.
Sekarang kan saya sudah nggak disana lagi mas, kata dicky. Tips yang diberikan dari tamu juga kita saling rahasia mas. itu memang sering bikin "pembeli" risih kalo sampe dibanding-bandingkan tips kepada kita-kita. Bisa terjadi keributan mas, bisa-bisa Cuil marah nanti.

Oke ceritanya dilanjut besok lagi ya...........