Layaknya kehidupan malam di kota Metropolitan di belahan dunia mana pun, tidak beda jauh dengan jakarta......walau belum pernah tapi di Indonesia terdapat beberapa kota besarnya hampir sama.
Berawal dari pertemuan aku dengan seseorang mantan gigolo di Kawasan Jakarta Selatan, sebut saja Dicky (25). Dia sudah lebih setahun berhenti dari pekerjaannya sebagai gigolo dan sekarang memilih menjadi kuli bangunan. Dan dari Dicky ini aku mendapat banyak cerita tentang kehidupan malam di pusatnya hiburan di Jakarta Selatan. Nama tempat yang sudah tidak asing di telinga banyak orang, sebuah kawasan belanja elite di Selatan Jakarta.
Cerita awal bisa terjun di dunia para pria pemuas napsu karena ajakan teman yang lebih dulu menekuni pekerjaan tersebut. "Mas untuk jadi gigolo tidak cukup modal tampang saja", kata dicky kepada saya. Pertama kali saya di modali teman untuk ke salon, beli baju dan asesoris sebagai tanda pengenal dan identitas diri ujar dicky.
Disana kita tidak bisa sendiri mas, ada koordinator masing-masing....sebut saja Cuil, dia koordinator saya. Jadi tugasnya koordinator ini memperkenalkan saya ke para tante yang memang betuh orang2 seperti saya, kata dicky sambil menyalakan rokoknya. Karena para "pembeli"(istilah para tante) ingin dijaga privasinya dan tidak ingin sembarangan, harus ada penjamin. Selain itu ada juga guade untuk para "pembeli" yang baru. Biasanya guade ini membawa plastik belanjaan dan berjalan bersama tante yang akan cari mahluk kayak kami ini. Guade ini kebanyakan perempuan paruh baya, dan banyak orang orang pasti gak akan menyangka kalo tugasnya memberi petunjuk kepada para tante, cowok mana yang berprofesi seperti saya ini.
"Tandanya apa?....kok bisa tau kamu itu gigolo....? tanyaku.
Disana itu ada beberapa kelompok mas, tapi dulu sebelum saya berhenti itu ada tanda khusus dan hanya sesama kita yang tahu. Biasanya pakaian yang digunakan warna hitam, baik kaos atau jas, dengan celana dan sepatu casual. Rapi dan wangi itu pasti, mas...tambah dicky. Tanda lain biasanya tergantung kelompoknya, ada yang sengaja mengulung sebelah lengan baju sebelah kiri dan sebelah kanan biasa. Ada juga yang membawa koran yang diguling atau membuka beberapa kancing baju bagian atas hingga terlihat dadanya. Itu dulu mas, saya nggak tau sekarang apa masih begitu.
"Nah biasanya nunggunya dimana kamu?," tanyaku lagi.
Kalo aku di luar Mall, mas...ya didepan toko-toko itu. Kami takut juga mas, kalo nanti ada razia atau yang lain.....hahahahaha, sambil tertawa.
"Maksudnya yang lain apa?", tanyaku penasaran.
Iya disanakan bukan cuma mahluk seperti kami yang cari makan, para "pecun" (perek cuma-cuma) juga banyak. Nanti salah2 malah dikira kita yang cari mangsa....hahahaha. Biasanya para "pembeli" nanti jalan melewati kami diantar sama guade untuk milih. Mereka seperti teman lama baru bertemu jadi banyak orang tidak tahu kalo itu guade dan pembeli yang sedang cari mangsa. Dan itu setiap malam, mas.
"Nah cara transaksinya gimana?".
Setelah si "pembeli" tau yang mana yang dipilih biasanya guade langsung memberi tahu koordinator kami. Dan dari koordinator nanti kami dikasih petunjuk nanti naik mobil apa warna apa?. Sampai sekarang saya gak kenal nama guade itu, kami cuma panggil tante aja. Mungkin orang kira jadi gigolo itu enak ya mas?....Semua salah mas, berat dengan resiko yang besar....bisa-bisa kita mati mas.
"Ah...masak?", tanyaku heran.
Iya mas, banyak yang harus kita rahasiakan baik dengan teman sendiri satu profesi apalagi sama orang diluar dunia kami. Saya tidak boleh cerita mengenai siapa tante yang menjadi langanan saya. Dulu pernah ada mas, yang sampe sekarang aku nggak tau lagi dimana anak itu. Dia dicari karena membocorkan rahasia kepada orang lain. "Nah kamu kok berani?," kataku.
Sekarang kan saya sudah nggak disana lagi mas, kata dicky. Tips yang diberikan dari tamu juga kita saling rahasia mas. itu memang sering bikin "pembeli" risih kalo sampe dibanding-bandingkan tips kepada kita-kita. Bisa terjadi keributan mas, bisa-bisa Cuil marah nanti.
Oke ceritanya dilanjut besok lagi ya...........
Tidak ada komentar:
Posting Komentar