Laman

Senin, 22 November 2010

Night in Jakarta part 2

Seperti cerita kemarin....ini masih ngobrol bareng Dicky. Memang pertama ketemu Dicky aku merasa kok ada kuli modelnya begini. Ganteng memang, bersih putih dengan badan proporsional.Di proyek teman2nya panggil dia bencong, gak salah memang karena perlengkapan kecantikannya lengkap.....hahahaha.
"Trus pertama kali dulu gimana?",tanyaku
Pertama kali gimana, mas? dicky balik tanya ke aku. Aduh ini anak dodol apa pilon masak harus aku jelaskan maksud aku....hah (dalam hati).
"Ya pertama kali kencan sama tante lah", jelasku.
Ya gimana mas, aku kan terpaksa karena kebutuhan...tadinya aku juga masih takut mas. wah campur rasanya, gak karuanlah. Untungnya tante Devi itu baik mas.
"Baik gimana?", tanyaku lagi.
Saya diajak keliling Jakarta pake mobilnya, dan kita ngobrol banyak sepanjang jalan. Aku kan tanya "kenapa sih kok begini?",ujar dicky. tante itu bilang karena kesepian aja. Trus tante Devi itu bilang kenapa aku kok gak kayak temen2ku yang lain. Aku jawab ini pertama kalinya aku menjalani profesi seperti ini.
Sampai mobil berhenti di sebuah Motel di kawasan Jakarta Timur, tepatnya pintu masuk Jakarta dari arah Timur......
.......maaf ada bagian yang tidak dapat diceritakan disini......bila penasaran bisa telpon aku.....hahahaha.
"Oke Dick, trus berapa tante yang jadi langananmu?", tanyaku penasaran.
Aku pilih2 orangnya mas, cuma dua tok. satunya tante siti, wanita priyayi jawa tulen. Sampai sekarang aku juga heran kenapa orang2 kayak mereka punya kelainan gitu ya mas?. Ha...ha...ha aku cuma bisa ketawa aja.
"Nah uangnya kamu apakan?", penasaran aku.
Duh mas, uang kayak gitu cepet abis. Tiap hari 3 kali aku minum vitamin makan juga gak bisa sembarangan, aku betul2 kayak ayam potong mas.
Tante Devi itu baik banget sama aku, kadang aku dibeliin baju, celana dan kebutuhan lain. Tante Devi paling lama sama aku mas, hampir 6 bulan dia jadi langganan aku. Dia yang sering kasih aku vitamin bentuk kapsul dan perhatian banget. Juga handphone terbaru pernah dibeliin untuk mempermudah ketemuan sama dia.
"Berapa kali seminggu sama dia?", tanyaku lagi.
Gak mesti, kadang seminggu 2 kali, pernah sampe 3 hari berturut-turut. Biasanya seminggu kemudian dia gak dateng.
"Kan biasanya servis itu ada berapa macem?", kataku
Wah gak tau mas, aku tanya di tempat apa dibooking istilahnya gitu.
"Hah....ditempat?", makin heran aku.
Di tempat itu di dalam mobil mas, bukan dipinggir jalan....hahahaha. Didaerah situ juga? tanyaku lagi. Iya kata dicky. "Apa nggak goyang2 itu mobil?", tanyaku lagi.
Hahahahaha....kan kita punya teknik tinggi, jawab dicky.
Dalam hati aku, anjrit nih anak teknik tinggi, kayak sekolahan aja. "Biasanya yang begitu tante yang gimana?", tambah penasan aku.
Itu mah tante yang udah kebelet aja mas, sebentar aja trus pergi lagi. "Kamu pernah?", tanyaku
Gak mas, itu biasanya temenku....dia langanannya banyak, tante2 yang kerja kantoran biasanya yang begitu mas. jadi pulang kerja mungkin stress mampir dulu....hahahaha.
"Sori nih kalo kayak istilah sekarang jablay, dimana tempatnya?",tanyaku.
Ada mas, apa perlu saya anter mas...kalo mas mau aku kenalin sama bosnya disana.
"Gak sapa tau nanti kalo ada temenku pengen",jawabku harus bisa ngeles....hahaha.
Di Jalan "M" itu tempatnya mas, tiap malem. Tapi kalo gak tau bisanya dapetnya kelas kambing mas. "Maksudnya kelas kambing apa?".
Ya kelas ecek2 gitu, udah tua atau udah barang lama....hahahahaha
"Kalo meraka beda lagi cara kerjanya ya?".
Mereka lebih terbuka mas, gak perlu guade. biasanya cuma tukang ojek aja.
Jadi kalo ada yang mau booking biasanya mereka dianter sama tukang ojek ke hotel tempat tamu nginap. Dan mereka gak mau naek mobil yang kita bawa...tetep dianter tukang ojek.

besok lagi ya udah ngantuk....

Night in Jakarta part 1

Layaknya kehidupan malam di kota Metropolitan di belahan dunia mana pun, tidak beda jauh dengan jakarta......walau belum pernah tapi di Indonesia terdapat beberapa kota besarnya hampir sama.
Berawal dari pertemuan aku dengan seseorang mantan gigolo di Kawasan Jakarta Selatan, sebut saja Dicky (25). Dia sudah lebih setahun berhenti dari pekerjaannya sebagai gigolo dan sekarang memilih menjadi kuli bangunan. Dan dari Dicky ini aku mendapat banyak cerita tentang kehidupan malam di pusatnya hiburan di Jakarta Selatan. Nama tempat yang sudah tidak asing di telinga banyak orang, sebuah kawasan belanja elite di Selatan Jakarta.
Cerita awal bisa terjun di dunia para pria pemuas napsu karena ajakan teman yang lebih dulu menekuni pekerjaan tersebut. "Mas untuk jadi gigolo tidak cukup modal tampang saja", kata dicky kepada saya. Pertama kali saya di modali teman untuk ke salon, beli baju dan asesoris sebagai tanda pengenal dan identitas diri ujar dicky.
Disana kita tidak bisa sendiri mas, ada koordinator masing-masing....sebut saja Cuil, dia koordinator saya. Jadi tugasnya koordinator ini memperkenalkan saya ke para tante yang memang betuh orang2 seperti saya, kata dicky sambil menyalakan rokoknya. Karena para "pembeli"(istilah para tante) ingin dijaga privasinya dan tidak ingin sembarangan, harus ada penjamin. Selain itu ada juga guade untuk para "pembeli" yang baru. Biasanya guade ini membawa plastik belanjaan dan berjalan bersama tante yang akan cari mahluk kayak kami ini. Guade ini kebanyakan perempuan paruh baya, dan banyak orang orang pasti gak akan menyangka kalo tugasnya memberi petunjuk kepada para tante, cowok mana yang berprofesi seperti saya ini.
"Tandanya apa?....kok bisa tau kamu itu gigolo....? tanyaku.
Disana itu ada beberapa kelompok mas, tapi dulu sebelum saya berhenti itu ada tanda khusus dan hanya sesama kita yang tahu. Biasanya pakaian yang digunakan warna hitam, baik kaos atau jas, dengan celana dan sepatu casual. Rapi dan wangi itu pasti, mas...tambah dicky. Tanda lain biasanya tergantung kelompoknya, ada yang sengaja mengulung sebelah lengan baju sebelah kiri dan sebelah kanan biasa. Ada juga yang membawa koran yang diguling atau membuka beberapa kancing baju bagian atas hingga terlihat dadanya. Itu dulu mas, saya nggak tau sekarang apa masih begitu.
"Nah biasanya nunggunya dimana kamu?," tanyaku lagi.
Kalo aku di luar Mall, mas...ya didepan toko-toko itu. Kami takut juga mas, kalo nanti ada razia atau yang lain.....hahahahaha, sambil tertawa.
"Maksudnya yang lain apa?", tanyaku penasaran.
Iya disanakan bukan cuma mahluk seperti kami yang cari makan, para "pecun" (perek cuma-cuma) juga banyak. Nanti salah2 malah dikira kita yang cari mangsa....hahahaha. Biasanya para "pembeli" nanti jalan melewati kami diantar sama guade untuk milih. Mereka seperti teman lama baru bertemu jadi banyak orang tidak tahu kalo itu guade dan pembeli yang sedang cari mangsa. Dan itu setiap malam, mas.
"Nah cara transaksinya gimana?".
Setelah si "pembeli" tau yang mana yang dipilih biasanya guade langsung memberi tahu koordinator kami. Dan dari koordinator nanti kami dikasih petunjuk nanti naik mobil apa warna apa?. Sampai sekarang saya gak kenal nama guade itu, kami cuma panggil tante aja. Mungkin orang kira jadi gigolo itu enak ya mas?....Semua salah mas, berat dengan resiko yang besar....bisa-bisa kita mati mas.
"Ah...masak?", tanyaku heran.
Iya mas, banyak yang harus kita rahasiakan baik dengan teman sendiri satu profesi apalagi sama orang diluar dunia kami. Saya tidak boleh cerita mengenai siapa tante yang menjadi langanan saya. Dulu pernah ada mas, yang sampe sekarang aku nggak tau lagi dimana anak itu. Dia dicari karena membocorkan rahasia kepada orang lain. "Nah kamu kok berani?," kataku.
Sekarang kan saya sudah nggak disana lagi mas, kata dicky. Tips yang diberikan dari tamu juga kita saling rahasia mas. itu memang sering bikin "pembeli" risih kalo sampe dibanding-bandingkan tips kepada kita-kita. Bisa terjadi keributan mas, bisa-bisa Cuil marah nanti.

Oke ceritanya dilanjut besok lagi ya...........

Minggu, 21 November 2010

Menunggu jawab

Semakin lama terasa semua membuat aku merasa tertipu....ya tertipu dengan segala yang indah. Keindahan semu juga membutakan hati kecilku, mampu mebuat semua orang terkesima dan menyalahkan aku.
Menyakitkan bila firasat ini benar...mungkin tidak 100% benar tapi lama kelamaan dan hampir pasti. Aku hanya debu yang terbawa angin. Debu yang merasa dirinya batu gunung, debu yang akan hilang dengan tiupan angin dan siraman hujan.
Lelah aku mencari jawab dari semua ini, satu demi satu pergi tanpa pesan dan jawab dari semua pertanyaanku. Tuhan apa Engkau juga bosan denganku?? Jangan Tuhan...jangan pernah bosan denganku.
Keindahan dunia dan semua kenikmatan hanya sesaat dan menghancurkan aku sampai pada dasar jurang kehidupan. Harapan dan cita-cita dimulai lagi disini....ya disini, hari ini...ya hari ini.
Tuhan sedikit permohonan hambaMu ini....tunjukanlah yang benar itu benar dan yang salah itu salah. Dan jangan terlalu lama hamba mencari jawaban pasti...karena Engkau Yang Maha Memastikan dan Engkau Yang Maha Benar.
22 November 2010

Minggu, 10 Januari 2010

H I J R A H

Jauh dari harapan

Kilau kemilau indahnya

Mimpi mimpi tanpa kenyataan

Bunga indah taman khayalan

Jauh dari semua

Diombang ambing perasaan

Menghantap dan dihantam kenyataan

Bersama sampah dan sisa sisa

Jauh….jauh

Aku lempar semua mimpi

Aku pergi dengan dendam

Aku mencari dan mencari

Tak akan ada lagi aku…..

Cuma satu ingin ku

Memberi arti dalam hidup ini

Setelah itu mati.....

Hanya untuk satu arti dalam hidup